ADAKITANEWScAri kepompongkepompong, menggelikAn nAmun membawa berkah Nganjuk – Ketika musim hujan tiba, banyak warga Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu, mencari kepompong ulat jati di dalam hutan. Selain untuk dikonsumsi sendiri, beberapa warga menjualnya untuk jadi penghasilan tambahan.

Aktifitas mencari kepompong ini tidak hanya dilakukan kaum laki-laki saja, akan tetapi kaum perempuan juga banyak yang terlihat sibuk mencari ulat jati yang sedang bertapa untuk berubah menjadi kupu-kupu ini.

Lokasi hutan jati yang dekat area wisata Watu Gandul ini memang banyak terdapat kepompong ulat yang ada di daun jati yang sudah rontok ke tanah. Kadang mereka sengaja menyibakkan rerimbunan dedaunan hutan yang di bawahnya banyak kepompong berlindung.

Selain sebagai makanan berprotein tinggi, kepompong ulat jati ini diyakini bisa menghilangkan pegal-pegal di badan. Dan munculnya kepompong ini tentu saja merupakan lahan rejeki yang menguntungkan bagi warga setempat.

Dalam sehari mereka bisa mengumpulkan satu kilogram kepompong, harga setoran satu kilo dihargai 75 ribu rupiah. “lumayan buat tambahan uang belanja,” ungkap Yayuk, 35, ibu rumah tangga asal Dusun Jonggan Desa setempat.

Kepompong warna coklat ini, terlihat menggelikan bahkan sebagian orang mungkin bilang menjijikkan karena berada di tempat yang kotor. Namun karena menghasilkan rejeki yang lumayan, mereka tak memperdulikan itu. Apalagi jika digoreng rasanya gurih dan enak.

Bahkan warga setempat banyak yang langsung membakar kepompong ini untuk dimakan bersama-sama. “Kalau beli, satu porsi kepompong goreng harganya dua puluh ribu rupiah, Rasanya gurih, kalau digoreng rasanya lebih nikmat,”jelas Yayuk. (Klmto/jati).

Keterangan Gambar : Warga Desa Sugih Waras Ngluyu Nganjuk saat memburu kepompong di hutan jati