ADAKITANEWS, Nganjuk – Palang Merah Indonesia (PMI) telah berkiprah di bidang kemanusian sejak tahun 1945 dan kini tengah menginjak 71 tahun. Sepanjang usianya, aksi PMI telah dirasakan oleh setiap generasi, mulai dari generasi kemerdekaan, generasi yang mempertahankan kemerdekaan, generasi yang mengisi kemerdekaan, hingga generasi terkini dengan segala kemajuannya. PMI telah terlibat dalam membangun generasi bangsa menuju negara yang beradab dan berkemanusiaan.

Dalam perjalanannya, PMI menyadari bahwa membangun generasi berperikemanusiaan adalah pekerjaan yang panjang dan harus dimulai sejak usia dini dengan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Di kemudian hari, diharapkan akan tumbuh bangsa yang beradab, berkeadilan dan berkemanusiaan. Ini adalah sebuah investasi dan cita-cita besar.

Ketua PMI Jatim, Imam Utomo dalam sambutan peringatan HUT PMI ke-71 kali ini menegaskan sepanjang usianya, aksi PMI telah dirasakan oleh setiap generasi. PMI telah terlibat dalam membangun generasi bangsa menuju negara yang beradab dan berkemanusiaan.

img-20160917-wa0010Dalam perjalanannya, dikatakan mantan Gubernur Jatim ini, PMI menyadari bahwa membangun generasi berperikemanusiaan adalah pekerjaan yang panjang dan harus dimulai sejak usia dini dengan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Pada peringatan HUT kali ini, PMI ingin terlibat dalam membangun karakter anak-anak sebagai usia dini untuk menjadi generasi berkemanusiaan.

Untuk itu, kegiatan peringatan HUT PMI tahun ini akan melibatkan anak-anak, baik yang tergabung dalam satuan PMR maupun anak-anak pada umumnya di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. “Prioritas PMI saat ini adalah membentuk satu pleton PMR di setiap sekolah di Jawa Timur,” tandas Imam Utomo.

Sementara itu menurut Bupati Nganjuk Taufiqurahman mengatakan Sesuai dengan kompetensi PMI, maka “Pertolongan Pertama” menjadi topik dasar untuk semua kegiatan. Pelaksanaan kegiatan diharapkan lebih banyak melibatkan pihak eksternal seperti murid Taman Kanak-Kanak (TK) dan siswa Sekolah Dasar serta para orang tua.

Ditambahkan Bupati dua pereode ini Pelibatan internal yaitu anggota PMR akan menjadi “peer educator” yaitu menjadi penyampai pesan, contoh dan teladan dalam pelaksanaan kegiatan peringatan, di bawah bimbingan relawan PMI dan para pembina. “Kegiatan yang dilaksanakan diharapkan berupa penyampaian pengetahuan dan keterampilan bagi anak-anak untuk mendukung lingkungan yang responsif dan aman, baik di rumah, tempat bermain, maupun di sekolah,” kata Bupati Taufiqurrahman.

Dampak positif dari edukasi dan keterlibatan pihak eksternal kini dirasakan PMI. Dimana jumlah pendonor darah dari masyarakat lebih dari 2 persen dari jumlah penduduk seluruh Jatim yang mencapai 38. 847.561 jiwa. “Asal tahu, Provinsi Jawa Timur ini satu-satunya provinsi yang jumlah pendonor darahnya di atas 2 persen dari jumlah penduduknya. Ini prestasi yang luar biasa,” ujar Bupati Nganjuk.

Untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat yang terlibat dalam kegiatan PMI, Bupati Nganjuk memberikan penghargaan kepada SMAN 1 Kertosono sebagai sekolah penggerak donor darah terbanyak. Kemudian Puskesmas Baron, sebagai Puskesmas pertama penggerak donor darah, Kecamatan Ngronggot sebagai kecamatan penggerak donor darah terbanyak. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada perorangan yang telah mendonorkan darahnya lebih dari 50 kali.(Adv/Jati)

Keterangan Gambar: Simulasi penanganan korban bencana alam dan penyerahan penghargaan oleh Ketua PMI Jatim, Imam Utomo kepada masyarakat yang terlibat aktif dalam kegiatan PMI.(Foto: Bagus Jatikusumo)