Bupati Nganjuk Prihatin, Nasib Balita Penderita Mikrosefalus

ITA TAUFIQADAKITANEWS Nganjuk – Kondisi berbeda terlihat pada bayi yang biasa disapa Naila itu. Jika sang kakek dan ayahnya terlihat grogi saat didatangi oleh orang nomor satu di Kabupaten Nganjuk itu, Naila justru sebaliknya. Dia tetap terlelap meski tangan Taufiq, Ita dan beberapa anggota PKK beberapa kali mengusap tubuhnya. “Kalau tidur memang tenang,” sambung Novianto tentang putrinya yang kemarin dirawat di Ruang Tulip 3, RSUD Kertosono itu.

Dari enam anak yang ada di sana, Naila tergolong istimewa. Hal itu pula yang membuat Taufiq, Ita dan sejumlah pejabat Pemkab Nganjuk kemarin mengunjunginya. Bayi yang terlahir pada 2 Agustus 2015 lalu itu menderita mikrosefalus atau kelainan otak dengan ukuran kepala lebih kecil dibanding bayi seusianya.

Sepintas, tak ada hal berbeda dari bayi perempuan itu. Selain ukuran kepalanya yang lebih kecil, tubuh bayi berkulit kuning itu seperti halnya bayi kebanyakan. Hanya saja, setelah diperhatikan lebih teliti, tengkorak kepala bayi dengan berat badan 3,8 kilogram itu terlihat menonjol di beberapa bagian.

Saat disentuh di beberapa bagian kepalanya juga lembek, tak seperti kepala bayi seusianya. Karena kelainan itu pula, Naila sudah menjalani perawatan di RSUD Kertosono selama 40 hari terakhir.

Keberadaan putri pertama pasangan Novianto dan Sri Handayani disana bukannya tanpa alasan. Kelainan otak yang dideritanya, membuat bayi piatu itu tak bisa menelan.

Sebagai jalan susu, agar bayi yang terlahir di barak penampungan dinas sosial di Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono itu bisa tetap mengonsumsi susu, Agus harus memasukkan susu melalui hidungnya. Kakek yang tinggal di bedak pasar Kertosono itu pun lantas memeragakan cara menyuntikkan cairan ke dalam selang seukuran lidi yang dimasukkan ke hidung cucunya.

“Bagaimana lagi,” keluh pria yang sempat mengajak Naila tinggal di bedak pasar yang ditinggalinya itu.

Setiap hari, Agus harus mengingat betul jam minum cucunya. Sebab, jika telat pun Naila tak akan menangis. Hingga usianya yang tepat lima bulan pada Januari ini, Naila memang belum bisa menangis. Hanya saja, cucunya itu sering didapati mendadak kejang. “Setiap tiga jam sekali diberi susu 30 mili (mili liter, Red),” urai Agus.

Meski dengan penderitaan yang dialami cucunya, Agus mengaku masih bersyukur. Sebab, bayi yang terlahir dengan berat 2,7 kilogram itu kini sudah semakin besar. Terakhir, berat badannya mencapai 3,8 kilogram.

“Harus telaten memberi susu. Nggak boleh lupa,” lanjutnya menyemangati dirinya sendiri sambil melihat cucunya yang sudah berstatus piatu karena ditinggal mati ibunya sejak usia tiga bulan itu.

Kondisi Agus yang memprihatinkan bersama sang cucu inilah, yang lantas membuat petugas dari desa dan kecamatan lantas membawa mereka ke RSUD Kertosono untuk menjalani perawatan. “Sebenarnya bayi ini ikut KK mana kami juga bingung. Tapi yang penting dia mendapat perawatan dulu,” kata Camat Kertosono Eko Sutrisno.

Sebelum menjalani perawatan di RSUD Kertosono, Naila memang sempat tinggal di bedak pasar Kertosono yang terletak di Kelurahan Banaran. Tetapi, selama kehamilan, Sri Handayani dan Novianto, kedua orangtuanya, tinggal di barak dinas sosial di Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono.

Rumitnya lagi, saat kehamilan Naila, Sri Handayani dan Novianto tidak tinggal di Nganjuk. Melainkan di Desa Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. “Waktu saya dipanggil (di barak Desa Pandantoyo, Red), bayi sudah lahir di barak. Melahirkan di sana,” sambung Nurul, bidan desa yang sempat menolong persalinan Naila.

Di tengah kondisi ketidakjelasan status kependudukan Naila itu, Eko mengatakan, pihaknya tetap mengupayakan agar dia mendapat pertolongan. Apalagi, Naila tergantung sepenuhnya pada selang di hidung yang digunakan untuk mengonsumsi susu.

Melihat kondisi Naila kemarin, Taufiq menginstruksikan agar rumah sakit memberi pelayanan kesehatan yang baik pada bayi malang itu. “Harus ditangani lintas satker (satuan kerja, Red),” kata Taufiq yang juga memberikan bantuan uang.

Plt Direktur RSUD Kertosono Achmad Noer Cholis yang dikonfirmasi tentang perawatan Naila mengatakan, pihak rumah sakit berusaha memulihkan kondisi Naila. Apakah bayi itu bisa dioperasi agar bisa menelan? Ditanya demikian, Noer mengatakan, dibutuhkan pemeriksaan lebih detail dan teliti untuk bisa menjawabnya. “Kalaupun bisa, mungkin yang bisa itu RSUD dr Soetomo. Tapi, itupun tidak bisa menjamin karena ini terkait saraf,” kata Noer.

Lebih lanjut Noer mengatakan, kasus mikrosefalus relatif pelik. Sebab, terkait dengan otak yang merupakan pusat kendali di tubuh. “Saraf bisa terganggu. Makanya, yang kami lakukan adalah menjaga kondisi agar tetap stabil,” urai Noer sembari mengatakan penanganan lebih lanjut bisa dilakukan jika Naila sudah bisa menelan atau minum sendiri.(Adv/Jati)

Keterangan Gambar : Bupati Nganjuk, Taufiq dan istrinya Naila saat mengunjungi bayi penderita mikrosefalus di RS Kertosono Nganjuk

Recommended For You