ADAKITANEWS, Tulungagung – Candi Dadi di Tulungagung merupakan peninggalan kerajaan Majapahit sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV. Candi yang terletak di Dusun Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung ini disebut-sebut dibangun oleh rakyat Majapahit beragama Hindu Budha yang mengasingkan diri dari kerajaan.

=========

Jika ingin menuju ke salah satu situs sejarah di wilayah bagian selatan Provinsi Jawa Timur ini dan membawa kendaraan, sebaiknya dititipkan ke rumah warga setempat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan di gang kecil di sela-sela rumah warga.

Setelah melewati jembatan bambu dan menyeberangi sungai, akan ada jalan setapak menuju lokasi candi yang penuh dengan rumput liar serta bebatuan besar berserakan tidak beraturan. Jika musim hujan, akses jalan menuju candi biasanya akan menjadi sangat licin. Hal itu berbeda ketika musim kemarau, yang justru tidak akan tampak pemandangan hijau karena kondisi hutan yang tandus.

Butuh waktu sekitar 40 menit untuk menuju candi ini karena letaknya yang berada di puncak bukit Walikukun. Dalam perjalanan menuju candi ini, pengunjung masih dapat menemukan sisa bangunan kuno diantaranya Candi Urung, Candi Buto, dan Candi Gemali. Sayangnya candi-candi tersebut sudah tidak terlihat lagi bentuknya, kecuali gundukan batuan andesit yang jumlahnya sangat minim.

Rasa lelah pun akhirnya menghampiri ketika sampai di lokasi Candi Dadi. Candi ini merupakan candi tunggal yang tidak memiliki tangga masuk, hiasan, maupun arca. Denah Candi berbentuk bujursangkar dengan ukuran panjang 14 meter, lebar 14 meter dan tinggai 6,5 meter ini terdiri atas batur dan kaki candi.

Bagian atas batur merupakan kaki candi yang berdenah segi delapan, yang pada permukaannya tampak bekas tembok berpenampang bulat dan kemungkinan berfungsi sebagai sumur dengan diameter 3,35 meter dan kedalaman sekitar 3 meter.

Menurut Triyono, peneliti sejarah Tulungagung, kata “Dadi” berasal dari bahasa jawa yang artinya “Jadi”. Nama Candi Dadi sendiri dilatarbelakangi dari bentuk candinya yang paling sempurna diantara candi lainnya.

Konon cerita dari masyarakat tentang asal mula candi tersebut, yaitu ketika salah seorang pangeran melamar seorang putri Dusun Kedungjalin. Lalu putri tersebut mau menerima lamaran dengan syarat dibuatkan empat candi dalam satu malam. Pengeran pun menyetujui persyaratan tersebut dan dimulailah pembuatannya. Maka ketika keempat candi hampir jadi, dan waktu masih cukup, maka putri yang sejatinya ingin menolak lamaran pangeran tersebut mencari akal untuk menggagalkan pembuatan candi yaitu dengan menyuruh beberapa ibu desa membunyikan suara lesung.

Maka candi yang keempat pun belum selesai dibuat karena pangeran mengira waktu sudah pagi. Candi yang keempat ini selanjutnya oleh masyarakat dinamakan Candi Urung, karena bentuknya yang tidak sempurna. Kata “Urung” sendiri berasal dari bahasa jawa yang artinya “Belum”.

Setelah pangeran tahu tipu muslihat itu, maka ia marah dan mengutuk para perempuan di desa itu, mereka tidak akan mendapatkan jodoh melainkan setelah usianya menginjak tua. “Entah terkait atau tidak, sampai sekarang mayoritas perempuan di dusun Kedungjalin baru bisa mendapatkan jodohnya di usia mulai tua,” ujarnya.

Sedang penamaan candi Buto, karena menurut masyarakat, dulu di atas candi tersebut terdapat sebuah arca besar yang sekarang tidak terlihat karena disembunyikan makhluk halus. Sedangkan nama Candi Gemali atau Lingga Gemali sendiri diambil karena di lokasi itu terdapat lingga yang mempunyai makna kesuburan lelaki. “Hal itu memungkinkan karena perempuan-perempuan Dusun Kedungjalin menikah di usia tua,” imbuhnya.

Untuk naik ke candi ini hanya bisa dijangkau dengan tangga bambu. Karena memang tak ada akses jalan maupun pintu masuk candi ini. Dulunya di sumur yang terletak di atas candi ini bisa ditemukan abu. Uniknya di sumuran itu, ketika hujan turun sederas apapun, di dalam sumuran tidak pernah menggenang air dan air yang turun langsung meresap ke dalam.

Ketua Museum Tulungagung, Drs Haryadi mengatakan, banyak pendapat mengenai fungsi Candi Dadi pada masanya. Ada yang mengatakan untuk pendermaan, ada yang mengatakan untuk pertapaan, ada juga yang mengatakan untuk pengabuan (pembakaran mayat,red). “Hingga kini masih ada saja sebagian masyarakat tertentu yang datang ke candi ini melakukan pemujaan,” jelasnya.

Haryadi mengatakan, candi tersebut diperkirakan dibangun sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV. Saat berakhirnya kekuasaan Hayam Wuruk merupakan masa suram bagi kehidupan agama Hindu Budha kala itu. Pertikaian politik di lingkungan kerajaan menimbulkan kekacauan. Dan dlam kondisi demikian, penganut Hindu Budha melakukan pengasingan agar tetap dapat menjalankan kepercayaan yang dimilikinya.

Sebagaian besar masyarakat kala itu, memilih puncak – puncak bukit atau setidaknya kawasan yang tinggi dan sulit dijangkau. Biasanya tempat baru yang mereka pilih, merupakan tempat yang jauh dari pusat keramaian maupun pusat lemerintahan. “Namun sampai sekarang saya belum menemukan pada era raja siapa yang membangun candi itu,” jelasnya.

Meski kini bangunan bersejarah itu sebagian hanya tinggal puing-puing setidaknya peninggalan tersebut tetap menjadi daya tarik serta aset tak ternilai, khususnya bagi masyarakat di Dusun Mojo Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu.(sid2)

Keterangan gambar : Candi Dadi Tulungagung.(foto : mus purmadani)