ADAKITANEWSBOCAH KENA TUMOR 1BOCAH KENA TUMOR, Blitar – Seorang Balita usia 4 tahun menderita tumor ganas di bagian wah, tepat pada bagian mata kanannya. Akibat tidak terobati, tumor itu semakin membesar hingga kepalanorang dewasa.

Balita malang itu bernama Moh. Sabikul Qoirot, asal Desa Pandanarum, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Tragisnya, tumor itu membuat bola mata sang Balita sudah tidak lagi berfungsi.

Anak semata wayang dari pasangan Romadhon dan Hanifah ini setiap harinya hanya hanya diwarat dirumah bersama kedua orang tua dan Siti Amanah, neneknya. Pasalnya, untuk membawa sang buah hati ke rumah sakit, pasangan itu tidak memiliki biaya.

Sang ayak yang bekerja sebagai buruh serabutan, tidak mampu untuk dapat mengobatkannya swcara medis. Sang balita hanya diobatkan di pengobatan alternatif, kendati hingga kini perkembangan penobatan pada balita itu tidak kunjung terlihat.

“Selama inihanya diobatkan di alternatif saja. Untuk ke dokter dan ke rumah sakit biayanya mahal, kami tidak mampu,” tutur Sang nenek.

Selain itu, ihak keluarga merasa trauma dengan penderitaan serupa yang menimpa bibi Sabikul. Setelah dioperasi, bibi Sabikul justru meninggal dunia. “Keluarga juga takut kalau Sabikul di operasi, bibinya dulu kena tumor setelah operasi meninggal dunia,” ujar Siti Amanah.

Penderitaan Balita ini berlangsu sejak satu tahun lalu, yakni tahun 2014 lalu. Awalnya, Sabikul merasa bata kananya gatal-gatal. Semakin lama, mata kanan tersebut menjadi memerah hingga akhirnya membengkak.

“Awalnya, Sabikul mengeluh matanya gatal, kemudian tampak memerah dan akhirnya mwmbengkak seperti sekarang ini,” ungkap Siti Amanah.

Siti Amanah juga mengaku hingga kini keluarganya belum mendapatkan kartu asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk mendapatkan perawatan secara medis. Alasanya, pihak desa belum mendaftar keluarganya pada program tersebut.

Sementara, saat dikonfirmasi terkait belum terdaftarnya keluarga Sabikul dalam program asuransi BPJS, kepala Desa Pandanarum, Masudin, mengaku pihaknya kesulitan untuk mendata. Pasalnya, keluarga itu sangat tertutup.

“Keluarga itu (keluarga Sabikul – red) sangat tertutup, sehingga kami kesulitan mendata. Tapi kita sudah laporkan ke dinas Kesehatan agar Balita tersebut mendapatkan perawatan media, ” jelas Masudin. (awan k/ Jati)