ADAKITANEWS, Blitar – Penganiyayaan terhadap Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) kembali terjadi. Kali ini dialami oleh dua CTKI yakni Sumiati, 36, warga Kecamatan Jatiroto Kabupaten Tuban, serta Sunarsih, 45, warga Kecamatan Saung Kabupaten Ponorogo. Keduanya diduga telah dianiaya di sebuah penampungan CTKI ilegal, yang terletak di Dusun Kembangarum Desa Wonorejo Kecamatan Talun Kabupaten Blitar.

Kapolres Blitar, AKBP Slamet Waloya melalui Kasubag Humas Polres Blitar, AKP Eny Mayasari mengungkapkan, penganiayaan itu terbongkar setelah Sunarsih dan Sumiati nekat kabur dari penampungan yang diketahui dikelola oleh Siti Aminatun, 42, warga Kelurahan Klemunan Kecamatan Wlingi. Keduanya kabur pada Selasa (02/05) dinihari.

“Keduanya kabur dengan cara lompat dari lantai dua. Karena bingung dan panik akhirnya keduanya diselamatkan warga dan diantarkan ke Polsek Talun,” papar AKP Eny Mayasari, Kamis (04/05).

Setelah melaporkan kejadian itu ke Polsek Talun, lanjut AKP Eny, keduanya dibawa ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi karena Sumiati diketahui sedang dalam kondisi hamil empat bulan, sehingga harus mendapatkan perawatan intensif didampingi Sunarsih.

Untuk saat ini polisi sudah mengamankan Siti Aminatun dan menetapkannya sebagai tersangka. “Meski ditetapkan sebagai tersangka, kita kini masih tetap melakukan pengembangan kasus ini. Termasuk mendalami keterlibatan pelaku lain dalam pengiriman CTKI tersebut,” ungkapnya.

Sementara saat ditemui di ruang Ponek RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Sumiati mengaku jika mereka sudah dua bulan tinggal di penampungan tersebut. Dirinya dan Sunarsih dijanjikan bakal diberangkatkan ke Singapura dengan proses cepat tanpa melewati PJTKI, karena sudah bekerjasama dengan agen penyalur TKI di Singapura. Namun hingga dua bulan menunggu, keduanya tak kunjung diberangkatkan. Padahal sebelumnya keduanya dijanjikan bakal berangkat kurang dari dua minggu setelah ditampung.

Keduanya pun mengaku sudah tidak kerasan tinggal di penampungan karena sering diperlakukan tidak manusiawi. “Saya pernah dikurung dan dikunci, bahkan saya ditendang, saya gak bisa kabur karena disana ada yang jaga,” tutur Sumiati, Kamis (04/05) siang.

Sumiati mengaku mengenal Siti Aminatun di Surabaya. Karena tidak betah dengan perlakuan saat di penampungan, ia akhirnya nekat kabur. “Kita sudah melaporkan tindakan pengancaman dan penganiayaan itu ke polisi,” imbuhnya.(blt2)

Keterangan gambar: Sumiati, saat ditemui di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.(ist)