width=

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Puluhan calon perangkat desa (Caperdes) mengadukan indikasi kecurangan proses rekrutmen perangkat Desa Kwangsan yang dilaksanakan di UNESA Kampus Lidah Wetan, Sabtu (19/08) lalu. Bahkan salah satu peserta tes, juga melayangkan surat pengaduan kepada Panitia dan rekanan tes pemilihan perangkat desa setempat.

Salah satu peserta tes Caperdes, Agung Handoko mengatakan, indikasi kecurangan yang pertama adalah pada saat tes yang baru mulai sekitar 25 menit tiba-tiba server mati. “Ini sangat aneh. Pada saat selesai tes tidak langsung diumumkan hasil yang telah dijanjikan panitia. Padahal sebelum tes dibacakan tatib oleh panitia caperdes, Abdullah Ibnu Mustain bahwa peserta wajib melihat pengumuman hasil tes setelah tes berakhir,” jelasnya, Rabu (23/08).

Pria yang akrab disapa Handoko ini juga menambahkan, hal janggal lain adalah terkait web cbt.unesa.ac.id dan cbt2.unesa.ac.id yang hanya bisa diakses 2 jam setelah tes. “Selebihnya sudah mati dan tidak bisa diakses lagi. Padahal ini adalah bukti keabsahan tes yang dilakukan salah oleh satu instansi terkait dan harus ada sampai pelantikan perangkat desa,” tegasnya.

Handoko mengatakan, pengumuman yang dilakukan panitia, Lasiman juga hanya melalui lisan saat perjalanan pulang di dalam bus, 2 jam usai tes. “Dan hanya dishare di grup whatsapp Caperdes. Pengumuman itu tulisan tangan yang isinya Sekretaris Desa – Rohmati, skor = 368, Kaur Keuangan – Lailatul Maftakhur Sururoh, skor = 292, Kasi Pemerintahan – M Nasarudin, skor = 362. Padahal diprint web berbeda pemenangnya tanpa adanya print resmi dari pihak UNESA, panitia dan rekanan penyelenggara,” tambahnya.

Ditambahkan Handoko, ia juga menyayangkan pengumuman resmi yang justru diberikan kepada pihak RT dan RW saat rapat BPD, Minggu (20/08) pukul 17.00 WIB lalu. “Bukan mengundang peserta tes,” tegasnya.

Handoko menegaskan bahwa anggaran yang digunakan untuk tes caperdes didanai oleh Ketua BPD Kwangsan, Sulaiman Suwarto. Dan padahal sepengetahuannya, hal itu tidak dibenarkan oleh undang-undang. “Saya dan caperdes yang lain sudah konfirmasi juga kepada pihak Kecamatan Sedati namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Intinya kami menginginkan tes ulang secara transparan. Karena indikasi kecurangannya sudah terlihat jelas,” pungkasnya.(pur)

Keterangan gambar : Agung Handoko bersama caperdes lain saat konfirmasi ke Kecamatan Sedati dan saat menunjukkan bukti pengumuman hasil tes tulisan tangan.(foto: mus purmadani)