ADAKITANEWS, Kediri – Sekitar tiga puluh warga Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri mendatangi Sentra Layanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kediri, Jumat (15/12).

Mereka melaporkan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Satak, Eko Cahyono, atas dugaan korupsi pembagian sharing atau bagi hasil hutan kayu, yang tidak diberikan selama sekitar 18 tahun.

Didampingi Penasehat Hukumnya, Danan Prabandaru, puluhan warga satak mengaku geram lantaran hasil hutan yang seharusnya bisa mereka terima setiap tahun, tidak mereka dapatkan. “Di Desa-desa sebelah itu semuanya (dana bagi hasilnya) turun. Satak kenapa tidak turun?,” katanya saat dikonfirmasi usai memberikan laporan di SPKT Polres Kediri.

Danan mengatakan, pihaknya sebelumnya juga telah melakukan investigasi ke Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Perhutani Kediri. Hasilnya, ternyata dana bagi hasil untuk masyarakat Satak tersebut turun dan diterima oleh LMDH Satak.

“Kisarannya per tahun RP 250 juta sampai Rp 300 juta. Sejak tahun 2000 sampai sekarang. Tapi warga ini tidak menerima. Duitnya kemana?” lanjut Danan.

Tidak hanya itu, warga juga melaporkan terkait dugaan adanya sewa-menyewa kawasan hutan yang dikelola oleh LMDH. Danan menyebut, pihaknya sudah memiliki data bahwa ada sekitar 6 sampai 7 orang di luar Desa Satak yang menyewa lahan di lokasi tersebut. “Ada sekitar 150an hektare. Jadi masalahnya, tidak seluruh warga Desa Satak yang tergabung dalam LMDH Satak menerima bagian tanah ini, tapi orang lain sudah menikmati,” tegasnya.

Danan juga melaporkan Ketua LMDH Satak atas pungutan yang dilakukan terhadap warga. Warga yang menanam tanaman tumpang sari di lahan Perhutani, bahkan dimintai pungutan setiap kali panen.

Terpisah saat dikonfirmasi, Ketua LMDH Satak, Eko Cahyono mengaku bahwa pihaknya selama ini telah melakukan pembagian sharing sesuai aturan yang ada. “Sudah ada ketentuan pembagian sharing, bahwa tidak harus dibagikan kepada anggota. Karena sharing itu juga digunakan untuk pembangunan hutan kembali,” ujarnya melalui telepon, Jumat (15/12).

Eko menyebut, sharing yang dihasilkan oleh LMDH Satak tidak terlalu besar. Yakni sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per tahun. Dan untuk kepentingan pembangunan hutan, lebih dari itu. “(Sharing) Itu dikembalikan untuk pelestarian hutan. Kalau ada kelebihan, biasanya juga digunakan untuk kepentingan sosial,” katanya.

Eko bahkan menduga, ada kepentingan lain dalam pelaporan tersebut. Pasalnya, kata Eko, warga yang melapor ke Polres Kediri bukan merupakan anggota LMDH. “Kalau anggota kita yang saat ini berjumlah 800 KK, tidak ada permasalahan apa-apa,” imbuhnya.

Rencananya, Eko Cahyono malah bakal melaporkan balik ke Mapolres Kediri pada Senin (18/12) mendatang. Laporan tersebut, akan ditunjukkan kepada orang-orang yang diduga menjadi dalang dan ingin mengadu domba LMDH dengan warga Desa Satak.

Informasi yang dihimpun, total lahan di LMDH Satak ada sekitar 350 hektare. Lahan tersebut, 250 hektare berdekatan dengan POKJA, dan sisanya yakni sekitar 150 hektare dikelola oleh LMDH.(kur)

Keterangan gambar: Puluhan warga Desa Satak mendatangi Mapolres Kediri. (bawah) Penasehat Hukum Warga Satak, Danan Prabandaru.(foto: kurniawan)

https://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/151217-kur-kediri-satak-2-1024x768.jpghttps://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/151217-kur-kediri-satak-2-150x150.jpgREDAKSIDaerahadakitanews,Berita,kediri,lmdh satak,polres kediri
ADAKITANEWS, Kediri – Sekitar tiga puluh warga Desa Satak Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri mendatangi Sentra Layanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kediri, Jumat (15/12). Mereka melaporkan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Satak, Eko Cahyono, atas dugaan korupsi pembagian sharing atau bagi hasil hutan kayu, yang tidak diberikan selama sekitar...