ADAKITANEWSHama Teyeng 3Hama Teyeng 2Hama Teyeng 1, Nganjuk – Ratusan hektar tanaman padi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur terancam gagal panen. Pasalnya, tanaman padi tersebut  terserang hama yang dianggapnya aneh. Daun padi tiba-tiba berubah kecoklatan hingga akhirnya mengering dan mati.

Beberapa petani menyebutnya, hama aneh tersebut dengan sebutan ‘Teyeng”, karena warna daun yang berubah kecoklatan tua seperti “karat”. Hama menyerang secara tiba-tiba dan serentak, hingga menyebabkan ratusan hektar tanaman padi yang baru berumur sekitar satu bulan tersebut daunnya mengering.

“Tidak tahu, tiba-tiba daunnya mengering, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini,” terang Diono,40, salah seorang petani di Dusun Nganginan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Wilangan, sabtu, (10/01).

Menurut Diono, petani sudah mencoba menyemprot dengan berbagai obat pembasmi hama padi. Namun tidak satu pun usahanya berhasil. Bahkan selang beberapa hari setelah disemprot, kondisinya bertambah parah. Hingga banyak petani yang jengkel hingga menempuh cara tidak wajar, yakni menggunakan bahan pewangi cucian. “Saking jengkelnya, ada petani yang menyemprot menggunakan ‘molto’ (bahan pewangi cucian-red),” ungkap Diono.

Anehnya, kendati sudah beberapa minggu petani mengeluh adanya serangan hama “teyeng”, namun dari petugas Penyuluh Pertanian belum ada yang datang. Akibatnya, petani menempuh caranya sendiri untuk mengatasi serangan hama padi yang terus meluas tersebut.

Dengan serangan hama aneh tersebut, petani takut akan mengalami kerugian cukup besar. Masalahnya, biaya yang dikeluarkan hingga padi berumur sekitar satu bulan cukup banyak. “Apabila tidak segera diatasi, petani bisa rugi besar,” keluh Diono.

Menurut petani, pemicu munculnya hama teyeng, lantaran kondisi tanah bekas tanaman bawang merah. Setelah tanaman bawang merah, muncul berbagai hama, termasuk ulat dan teyeng. Selain itu, kondisi tanah yang sudah ‘lelah’, lantaran selama setahun, tidak pernah ada jeda untuk istirahat.

Sedikitnya empat kali dalam setahun, petani langsung memanfaatkan lahan untuk berbagai jenis tanaman. Di antaranya, pada awal musim hujan, dengan tanaman padi, selanjutnya tanaman kedelai, dua kali bawang merah. “Itu pun di akhir musim tanam ke empat, petani masih menanam jagung, jadi tanah tidak diberi kesempatan beristirahat,” ujarnya.

Serangan hama ini tidak hanya di kecamatan Wilayangan saja. Namun dua kecamatan lain yakni Kecamatan Rejoso dan Bagor juga bernasip sama. (jati).