IMG_20150618_153338IMG_20150618_152909

ADAKITANEWS, Kediri – Adu mulut secara sengit terjadi antara salah satu bakal calon Bupati (Balon) Kediri dengan komisioner KPU. Bukannya sepakat untuk menyaksikan penghitungan jumlah syarat dukungan yang diserahkan, balon ini justru menyalahkan KPU yang tidak memberikan surat serah terima dukungan.

Balon Bupati dari jalur perseorangan itu, yakni Wisnu Wardana, mantan Ketua DPRD kota Surabaya, yang berpasangan dengan Tomi Ari Wibowo, aktivis LSM Ikatan Pemuda Mandiri (IPK). Berkas pasangan balon ini belum sempat dihitung oleh KPU karena balon yang bersangkutan meninggalkan tempat sebelum proses perhitungan dilaksanakan.

Ikut pula dalam acara itu penghitungan berkas syarat dukungan balon Subani, mantan kepala sekolah Pertanian, yang berpasangan dengan salah seorang kepala desa yang bernama Eko.

KPU kemudian memanggil kembali balon Bupati Wisnu Wardana dan Tomi Ari Wibowo untuk melakukan penghitungan syarat dukungan. Sebab, sebagaimana jadwal KPU, penghitungan syarat dukungan balon Bupati perseorangan berlangsung hingga tanggal 18 Juni.

“Pasangan bakal calon Bupati Wisnu Wardana dan Tomi Ari Wibowo kita undang, karena berkas syarat dukungan mereka belum dilakukan penghitungan,” jelas Sulkim, salah seorang Komisioner KPU Kabupaten Kediri. Kamis, (18/06).

Namun kedatangan balon di hari terakhir penghitungan syarat dukungan, justru terjadi percekcokan sengit. Balon ini mempermasalahkan surat tanda terima berkas hard copy yang mereka bawa pada tanggal 15 Juni lalu. Mereka menuduh KPU memiliki niat tidak baik dengan tidak mau memberikan surat tanda terima berkas.

Padahal, pada tanggal 15 Juni lalu, pasangan balon meminta KPU untuk menunda proses penyerahan syarat dukungan karena belum selesai untuk meng-input berkas dari hardcopy ke softcopy sebagaimana disyararatkan dalam aturan. Karena permohonannya tidak dipenuhi, pasangan balon ini akhirnya meninggalkan tempat dengan tidak menyerahkan soft copy.

“Apakah bisa dijamin berkas kami yang ada disini, (kantor kPU – red) tidak hilang atau berkurang?. Kalau hard copy saja tidak ada jaminan keamanan, bagaiman dengan soft copy yang bentuknya lebih kecil?,” tukas Wisnu dihadapan komisioner KPU.

Penghitungan jumlah syarat dukunganpun akhirnya batal dilaksanakan, pasalnya, balon ini kemudian kembali meninggalkan kantor KPU. Mereka mengancam akan mempidanakan komisioner KPU yang dianggap telah melanggar hukum.

“Kami jelas akan menempuh jalur hukum. Tapi masih akan kami kaji kemana jalur laporan kasus hukum ini akan kami tempuh,” tegas Wisnu.

Sementara, pihak KPU Kabupaten Kediri mengaku siap menghadapi tuntutan hukum yang hendak dilayangkan pasangan balon ini. Sebab KPU meyakini proses pelaksanaan kegiatan tersebut sudah sesuai dengan aturan dan perudang-undangan yang berlaku. “Kami siap menghadapi tuntutan hukum pasangan bakal calon ini, (Wisnu Wardana dan Tomi Ari Wibowo -red) kapan pun dan dimana pun,” pungkas Sulkim. (ys).

Keterangan Gambar : Perdebatan sengit anggota KPU dengan bakal calon Bupati Kediri dari jalur Independen