Eksekusi Rumah Di Kediri Berlangsung Ricuh, Penghuni Rumah Terpaksa Dievakuasi

13

Kediri(adakitanews.com)—Kericuhan terjadi pada saat eksekusi pengosongan isi rumah di Dusun Kweden Desa Karangrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, Selasa (19/11/2019). Pasalnya, penghuni rumah menolak dieksekusi oleh petugas dari Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri.

Akibat ulahnya itu petugas akhirnya terpaksa mengevakuasi penghuni rumah. Sekitar pukul 09.30 WIB petugas eksekutor sampai di lokasi kejadian. Petugas yang datang membacakan surat putusan eksekusi tanah dan bangunan dan meminta Joko beserta keluarganya meninggalkan lokasi. Namun eksikusi tersebut terhambat karena Joko beserta Yuliana istrinya menolak untuk pergi.

Secara spontan, Joko langsung menutup pintu rumahnya agar petugas tidak bisa masuk. Tak hanya itu sang istri berteriak brusaha mempertahankan rumahnya itu. Karena merasa sudah membayar pada bank.

Dianggap menghalangi pelaksanaan eksekusi petugas langsung bertindak dengan mendobrak pintu rumah tersebut. Ketua Panitera Pengadilan Negeri Kediri Syuhadak mengungkapkan eksekusi tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan ekseskusi yang dilakukan oleh Sujanarko, warga Kelurahan Tosaren, Kota Kediri. Pada November 2018, Sujanarko memenangkan lelang atas rumah milik Joko.

“Pada 2018 lalu pemohon memenangkan lelang yang dilakukan balai lelang Malang. Namun pemilik rumah baru tidak bisa meninggali rumah tersebut karena masih ditempati oleh tergugat,” ungkap Syuhadak.

Syuhadak mengungkapkan nantinya termohon dapat menempuh jalur hukum atas tanah dan bangunan tersebut, dengan mengajukan gugatan.“Jika mereka memiliki bukti telah melakukan pembayaran pada bank, termohon bisa melakukan gugatan. Jika pada gugatan tersebut dikabulkan maka mereka bisa menempati rumah tersebut kembali,” ungkap Syuhadak.

Joko, selaku termohon eksekusi mengatakan, sebelumnya, ia memiliki hutang di bank senilai 59 juta rupiah. Namun setelah satu tahun, dirinya tidak mampu untuk membayar hutang tersebut. Sehingga rumah dan tanah miliknya terpaksa dilelang oleh pihak BPR.

Mengetahui rumahnya hendak dilelang dirinya meminta pihak BPR agar rumah tersebut bisa dibelinya kembali. Pihak Joko mengaku sudah membayar uang muka untuk proses lelang tanahnya. Pihaknya juga sudah menawar untuk mendapatkan rumahnya kembali.

“Namun beberapa bulan berselang, sertifikat tanahnya berganti nama kepemilikan. Kami sudah menawar untuk membeli kembali rumah tersebut dan membayar uang muka 10 juta,” terang Joko.(gar).