Gimah, Dalang Kentrung Perempuan di Indonesia

gimah kentrung 1 Gimah kentrung 2@dakitanews Tulungagung – Meskipun kesenian tradisional semakin tergerus keberadaanya, namun Gimah,62, warga Dusun Patikrejo Desa Batangsaren Kecamatan Kauman Tulungagung, tetap setia memainkan kesenian kentrung. Sepinya undangan untuk bermain tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap melestarikan kesenian ini.

Ditemui di rumahnya yang berdinding sesek bambu, Gimah menceritakan sudah 52 tahun ia menekuni kesenian tersebut. Awalnya Gimah diajak oleh bapaknya untuk mengamen kentrung, dari rumah ke rumah. “Saat itu usia saya 10 tahun,” kenangnya.

Jiwa seni memang mengakar dalam keluarga Gimah. Selain ayahnya, kakeknya juga memainkan kesenian yang konon berasal dari Timur Tengah ini. Dalam kesenian ini, dalang kentrung membawakan sebuah lakon seperti wayang. Namun cerita yang dibawakan, semuanya berisi tentang kisah Islam di Pulau Jawa. Gimah mengaku tidak pernah menghitung cerita apa saja yang pernah dibawakannya.

“Mulai dari cerita Syeh Subakir Tumbal Jawa hingga Babat Tulungagung. Semuanya ada ratusan cerita,” terangnya. Gimah menghapalkan semua cerita tersebut di luar kepala.

Kesenian tradisional kentrung ini sempat mengalami masa kejayaan pada pertengahan tahun 80-an hingga 90-an. Di masa jayanya, dalam satu bulan Gimah hanya sempat beristirahat 2 hari. “Sisanya ya untuk memenuhi undangan,” tuturnya.

Saat ini Gimah mengaku pasrah dengan keadaan kesenian tradisional yang minim undangan pentas. Dirinya hanya berharap kelak kesenian ini akan ada yang melestarikannya. “Saya siap untuk mengajarinya,” pungkasnya.(Bram/Jati).

Keterangan Gambar ; Gimah saat memainkan kendang kentrung

Recommended For You