ADAKITANEWS, Tulungagung – Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, petani di Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, berinisiatif memasang jaring di hamparan sawah mereka.

Ini dilakukan karena tanaman padi yang telah berumur 60 hari diserang hama burung pipit. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terjadi secara sporadis ini dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan hasil panen.

Meski telah melakukan pemasangan jaring, serangan burung masih saja terjadi dengan cara masuk melalui celah-celah diantara sambungan jaring yang terpasang, sehingga petani pun masih harus menunggu sawah dan mengusir burung-burung tersebut dengan berbagai bunyi-bunyian, seperti terompet, kentongan dan sebagainya.

Kenyataannya, kawanan burung tersebut terbang ke sawah petani lainnya. Hal sama dilakukan petani lain, yang terjadi burung-burung itu kembali lagi, begitu seterusnya.

“Sebagian besar petani memasang jaring untuk meminimalisir serangan burung. Walau sudah memasang jaring, petani juga tetap menjaga sawah. Sebab, serangan burung masih tetap terjadi,” kata Roni salah satu petani di Desa Sukowiyono, Selasa (23/01).

Selain serangan burung, sambung Marta, petani lainnya, mereka juga mengeluhkan adanya hama tikus. Meski tidak begitu banyak, serangan hama pengerat ini terjadi di beberapa tempat. Hal ini diketahui dari adanya bekas gigitan tikus pada potongan tanaman padi.

Baik Roni maupun Marta, memperkirakan hasil panennya akan mengalami penurunan. Mereka menyampaikan hitung-hitungan secara kasar, untuk setiap lahan dengan luas 100 meter persegi, dengan kondisi normal, akan menghasilkan 1 ton gabah. Dengan adanya serangan hama ini, diprediksikan mengalami penurunan 2 – 4 kuintal, atau hanya menghasilkan sekitar 6 sampai 8 kuintal gabah.

“Kalau kondisinya seperti ini, ya jelas hasilnya akan turun. Penurunannya sekitar 2 sampai 4 kuintal untuk sawah dengan luas 100 meter persegi,” kata Marta.

Sementara itu Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Gatot Rahayu menyatakan adanya hama pengganggu tanaman itu disebabkan karena terganggunya ekosistem, sehingga perkembangbiakan burung pipit tidak terkendali.

Selain itu terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan pola tanam berubah, ditambah lagi, petani tidak bisa menjalankan waktu tanam yang serentak dan pemilihan varietas padi yang tidak tepat.

“Pemilihan varietas padi juga perlu diperhatikan. Kita juga sudah memberikan imbauan kepada petani, untuk menyetarakan pola tanam agar bersamaan, guna meminimalisir serangan hama burung pipit,” kata Koordinator POPT Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Gatot Rahayu.(bac)

Keterangan gambar : Menghindari serangan hama burung pipit, petani memasang jaring di hamparan sawah.(foto : acta cahyono)