Harapan Pelatih Muda Karawitan, Untuk Lestarikan Budaya

ADAKITANEWS, Kota Blitar – Suara gamelan sayup-sayup terdengar di sekitar pelataran Istana Gebang Kelurahan Bendogerit Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Tetembangan Jawa itu, berasal dari salah satu sudut kompleks bangunan yang kini digunakan sebagai tempat untuk berlatih seni.

Di ruang itu, tampak salah satu pemuda sibuk mengawasi remaja yang memainkan alat musik gamelan. Sembari mendengarkan lantunan musik, pemuda tersebut juga mengajari cara memukul gamelan yang baik.

Pemuda tersebut adalah Galeh Robibinur, pelatih karawitan berusia 24 tahun, yang sejak enam tahun lalu rutin melatih anak-anak dan remaja.

Galeh, sapaan akrabnya, mengakui saat ini sulit mencari orang yang pandai memainkan alat musik tradisional khas Jawa tersebut, apalagi mencari pelatihnya. Hal itulah yang membuat dirinya terpacu untuk melatih anak-anak dan remaja, mempelajari ilmu karawitan, atau memainkan gamelan.

Setidaknya, ada beberapa hal yang mendasari Galeh bersedia melatih karawitan. Yakni keinginannya melestarikan budaya Jawa, khususnya dalam hal seni karawitan dan menularkan ilmu karawitan kepada orang lain. “Intinya, saya ingin karawitan ini tidak punah. Sebab, saat ini banyak orang yang enggan belajar karawitan. Jika tidak saya dan pegiat seni lainnya yang memulainya, bisa jadi beberapa tahun kedepan pemain gamelan akan langka,” katanya, Sabtu (29/04) siang.

Galeh mengungkapkan, awal mula dirinya suka terhadap karawitan atau memainkan gamelan adalah karena sejak kecil sudah hoby menonton wayang kulit dan alunan langgan Jawa yang kerap dia dengar. Akhirnya ketika duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar (SD), dirinya dilatih oleh kakeknya yang juga pelatih kesenian jawa. “Saat itu, saya diajari mocopat, tari dan jaranan,” paparnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Galeh, ketika dirinya kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dirinya kemudian memilih menekuni seni karawitan dan tari. Seni karawitan dipilih lantaran untuk memainkan gamelan terbilang unik, yakni ada pakem ketukan atau alat musik yang harus diikuti untuk setiap jenis musik.

Untuk memainkan gending, maka alat musik yang dijadikan acuan (mengikuti irama), yakni Gong dan kenong. Jika untuk mendengarkan keindahan gamelan, maka irama yang harus diikuti yakni alat musik rebab (biola Jawa) dan gendang. Unik karena jenis alat musiknya banyak, yakni hingga 21 jenis dan masing-masing m bentuknya hampir sama, tapi nama dan suara yang dikeluarkan berbeda.

Seperti gender dan gender penerus. Tak heran untuk memainkan gamelan atau mempelajari seni karawitan dibutuhkan waktu yang lama, paling cepat 4-6 bulan. “Satu jenis musik salah ketuk, bisa mempengaruhi irama musik dan mengurangi estetika musik,” ujarnya.

Selama enam tahun melatih karawitan, ada beberapa hal yang membuatnya miris. Yakni, sulitnya mencari anak atau remaja yang mau atau bersedia dilatih karawitan. Saking sulitnya, dia terpaksa jumput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah agar pihak sekolah bersedia mengirimkan muridnya untuk dilatih karawitan.

“Dulu, sangat sulit sekali mencari orang yang mau belajar karawitan. Hal itulah yang membuat saya prihatin, jika tidak ada yang mau belajar maka karawitan terancam punah,” tandasnya.(blt2)

Keterangan gambar: Galeh Robibinur, saat memainkan alat musik jawa di salah satu bangunan di komplek istana gebang Kota Blitar.(foto : fathan)

Recommended For You