Harga Bawang Merah Tak Rasional Paksa KPPU-RI Turun Gunung

ADAKITANEWS, Nganjuk – Kenaikan harga komoditas bawang merah sejak dua bulan terakhir yang mencapai level atas yaitu sebesar Rp 37 ribu per kilogram dinilai sangat tidak rasional. Pasalnya pasokan bawang merah skala nasional pada tahun 2016 tergolong surplus alias tidak mengalami kelangkaan. Hal itu memaksa Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melakukan peninjauan langsung di wilayah produsen bawang merah, Nganjuk pada Senin (09/05).

Ketua KPPU-RI, Syarkawi Rauf saat melakukan inspeksi mendadak di pasar besar Sukomoro Nganjuk bersama rombongan dari Dinas Perdagangan Jawa Timur menegaskan, tercatat pada tahun 2015 dan 2016 pasokan bawang merah skala nasional masih tergolong aman. Itu dikarenakan perbandingan hasil produksi dengan angka konsumsi masyarakat masih surplus. Artinya pada tahun itu Indonesia tidak mengalami kelangkaan bawang merah.

Sesuai data yang dimiliki KPPU-RI, pada tahun 2015 hasil produksi skala nasional mencapai 1,2 juta ton bawang merah. Sementara nilai konsumsinya jauh di bawah produksi yaitu hanya sebesar 975 ribu ton. Itu artinya pada tahun itu angka surplusnya mencapai 225 ribu ton.

Tahun 2016 sendiri, tercatat angka produksi bawang merah sedikit menurun menjadi 1,1 juta ton. Sementara untuk kebutuhan konsumsi masyarakat justru naik menjadi 1 juta ton. Meskipun demikian pasokan bawang merah masih berada di tingkat aman karena masih ada surplus 100 ribu ton.

Dengan sensus pasar yang dilakukan oleh KPPU seperti itu, akhirnya muncul pertanyaan mengapa harga bawang merah di pasaran tidak bisa terkontrol dan semakin tinggi hingga pada akhirnya sangat memberatkan konsumen. ”KPPU-RI akan melakukan sidak ke sejumlah pusat penghasil bawang merah di Jawa Timur dan mencari faktor penyebab terjadinya lonjakan harga bawang merah,” tandasnya.

Berdasarkan catatan awal KPPU-RI, faktor penyebab meroketnya harga bawang merah karena minimnya hasil produksi petani lokal sehingga para pedagang besar mayoritas mendatangkan bawang merah dari luar Jawa seperti Bima dan Sulawesi dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 31 ribu. Saat para pedagang lokal di Kabupaten Nganjuk menjual lagi bawang merah ke tingkat distributor, otomatis akan menggunakan harga lebih tinggi yaitu antara Rp 35 ribu sampai Rp 37 ribu perkilogram. ”Kondisi ini adalah salah satu faktor penyebab terjadinya lonjakan harga bawang merah di pasaran,” lanjutnya.

Faktor penyebab lainya disampaikan juga oleh Syarkawi bisa saja karena unsur kenakalan pedagang besar atau tengkulak yang sengaja menimbun bawang merah dan akan menjualnya pada saat stok bawang merah langka. ”Hal ini juga akan kami monitor terus,” jelasnya.

Ditanya sejumlah wartawan terkait langkah apa yang diambil KPPU-RI untuk menyelamatkan harga bawang merah petani pada saat musim panen raya bulan Agustus mendatang, dengan tegas Syarkawi mengatakan baik Kementrian Pertanian dan Perdagangan harus melibatkan Bulog sebagai penyangga hasil panen petani. Tujuannya agar pada saat panen raya, hasil panen petani terserap dan masuk Bulog. Hal ini untuk mengantisipasi permainan harga di tingkat tengkulak. ”Bulog harus bisa menyerap hasil panen petani,” pungkasnya .

Sementara, salah satu pedagang besar di Pasar Sukomoro, Suwarni mengatakan sejak dua bulan terakhir banyak pedagang dengan terpaksa mendatangkan bawang merah dari Brebes, Demak, Yuana dan Bima. Alasanya karena stok barang di Nganjuk sudah kosong. ”Karena belum panen raya pedagang sudah kehilangan barang dan terpaksa harus beli di luar Nganjuk dengan harga Rp 29 ribu per kilogramnya,” katanya.(Jati)

Keterangan Gambar : Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) saat melakukan peninjauan langsung di wilayah produsen bawang merah, di Pasar Sukomoro Nganjuk

Recommended For You