ADAKITANEWSMISKIN SEGO TIWOLMISKIN SEGO TIWOL 1MISKIN SEGO TIWOL 4, Nganjuk – Mahalnya harga beras membuat sebagian warga miskin di nganjuk, Jawa Timur beralih mengkonsumsi makan nasi tiwul sebagai makanan pokok pengganti beras. Pilihan ini ditempuh karena mereka tidak mampu menjangkau harga beras yang kian melambung.

Warga dusun keduk, desa kebonagung, Kecamatan Sawahan, Kabuapten Nganjuk lebih memilih memanfaatkan ketela yang merupakan hasil ladang mereka sebagai makanan pokok sehari-hari. Kondisi ini menimpa hampir seluruh warga tiga desa di kecamatan itu, yaitu Brangkal, Keduk dan Kebunagung.

Ketela mereka jadikan nasi tiwul untuk makanan pokok sehari-hari, kendati membuatnya cukup rumit. Sebelum dimasak, ketela harus dikeringkan terlebih dulu hingga beberapa hari. Dan kemudian ditumbuk menjadi tepung untuk diolah menjadi nasi tiwul. Biasanya nasi dimakan dengan lauk seadanya.

Salah satu warga yang beralih makan nasi tiwul adalah keluarga Rukinem. Bagi rukinem, makan nasi tiwul bukan karena ia gemar dengan panganan dari tepung singkong ini, tetapi karena ia sudah tidak mampu membeli beras lagi.

Saat harga beras murah saja, Rukinem jarang bisa membeli beras untuk dimakan. Apalagi jika harganya melambung Hingga tembus nilai Rp. 13.000,- seperti sekarang, Rukinem makin tidak mampu lagi.

“Saya sudah tidak sanggup membeli beras kaerna harganya semakin mahal. Kalau makan nasi tiwul tidak perlu membeli, karena ketela pohon kita tanam sendiri,” unkap nenek miskin ini saat dikonfirmasi adakitanews.com.

Rukinem merupakan salah satu dari sekian banyak warga miskin di kabupaten nganjuk yang hidup serba kekurangan. Bagi mereka, beras merupakan barang mewah yang tidak bisa dibeli dan dimakan setiap hari.

Demikia juga yang di utarakan salah satu RT (rukun tetangga) Desa  Keduk, mayoritas warga desa ini merasa keberatan dengan naiknya harga beras, warga terpaksa mengganti makanan pokok mereka dengan, nasi Tiwul, ataupun nasi jagung, yang jauh relatif lebih murah.

“Naiknya harga beras saat ini sangat mempengaruhi, Kondisi warga sini. Karena tak terjangkau lagi maka terpaksa kami harus mencari ketela pohon di hutan, untuk di olah menjadi nasi tiwul Pengganti beras yang harganya sekarang meroket” Terang Paijan

Warga berharap agar pemerintah segera, menurungkan kembali hara beras, agar dapat terjangkau oleh warga miskin di lereng gunung wilis ini.(kmto/Jati)