ADAKITANEWSSAM_0442SAM_0430, Kota Kediri – Puluhan petani tebu berkumpul dalam acara Forum Grup Diskusi (FGD) bersama anggota DPR RI Komisi VI di hotel Lotus Kota Kediri. Agenda FGD yang bertema Mengurai Problematika Industri Gula di Indonesia ini berlangsung lebih dari dua jam. Para petani tebu mengungkapkan keluhan-keluhannya terkait produksi gula. Dikarenakan harga gula jauh dibawah harga beras. Akibatnya dalam beberapa tahun terakhir mereka mengalami kerugian lebih dari 20 juta per hektar.

Dalam forum yang dihadiri oleh Sarmudji,SE,M.Si anggota Komisi VI Dapil 6 dan H. M. Suryo Alam,Ak.,MBA Dapil 8 ini memang di khususkan untuk mendengarkan keluhan para petani tebu yang sedang tercekik karena harga gula jeblok. “Kami disini akan lebih banyak mendengarkan keluhan dari para petani tebu, agar kami semua lebih paham tentang kondisi sesungguhnya” terang Sarmudji,SE,M.Si dalam pembukaan acara tersebut.

Banyak keluhan dari para petani terkait kebijakan impor gula yang diterapkan oleh pemerintah. Kebijakan itu dianggap sama sekali tidak berpihak pada rakyat kecil. Bahkan impor gula yang berlebihan sangat menyakiti hati para petani tebu.

“Harga gula sekarang sudah jatuh di angka 7600/kilo gram, seolah-olah tidak ada upaya dari pemerintah untuk menangani ini, malah melakukan impor gula apakah itu solusinya? Impor it jurtru membunuh kami para petani” keluh Rudianto salah satu petani tebu yang hadir dalam acara itu.

Rudianto mengungkapkan, presiden Joko Widodo beberapa saat yang lalu menginstruksikan agar Impor barang harus di Stop. Namun realita saat ini justru akan mengimpor gula sebesar 600.000 ton. “kami dapat informasi pemerintah malah akan mengimpor gula lagi sebesar 600.000 ton. Itu akan merusak harga gula di pasaran” ungkapnya.

Kebijakan impor gula rafinasi ini sejatinya diperuntukkan bahan makanan dan minuman. Namun, gula ranifasi justru beredar di pedagang-pedagang eceran sehingga gula produk lokal kalah bersaing, karena produk impor berani memberikan harga yang murah.

“Kesepatakan dulu bahwa gula rafinasi hanya untuk produk makanan dan minuman, tapi apa yang terjadi saat ini gula rafinasi justru beredar di pedagang-pedagang kecil” keluh Karmaji, salah satu petani yang juga menjadi peserta FGD.

Pramono petani tebu dari Blitar mengatakan, masalah petani tebu bukan hanya berada pada harga gula yang jeblok. Namun ada permasalahan lain terutama dalam pengolahan gula. Para petani mengeluhkan adanya ketidak samaan dalam penentuan randemen tebu di beberapa pabrik gula. “Bagaimana bisa hasil randeman tidak sama, padahal tebunya sama. Ada yang 4% per kwintalnya ada yang 5% ada juga yang 7%. Ini jelas membingungkan kami” jelasnya.

Suryo Alam anggota DPR RI Komisi VI menyatakan, pihaknya akan mengoreksi impor gula rafinasi agar tidak berlebihan hingga beredar di pasar. Menurut Suryo, banyak beredarnya gula rafinasi dipasaran bebas diindikasikan terdapat kelebihan jumlah gula yang diinpor oleh pemerintah.

“Dari diskusi ini maka kami harus mengoreksi impor gula rafinasi. Kita akan pertanyakan hal ini pada menteri perdagangan terkait besar impor gula yang akan dilakukan pada tahun 2015,” terangnya.

Menyikapi semua keluhan para petani tebu perwakilan dari DPR RI Komisi VI akan membawa hasil dari diskusi ini dalam pertemuan Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) besuk siang pukul 11.00 WIB di Surabaya. “hasil ini akan kami sampaikan besuk siang di PTPN dan akan kami upayakan untuk menjadi acuan kebijakan pemerintah nantinya” ungkap Sarmudji,SE.,M.Si. (zay)

Keterangan Gambar: Diskusi Anggota DPR RI bersama para petani tebu