Harga Rendah, Transaksi Bawang Merah Lesu

709

bawangmerah@dakitanews Nganjuk – Meski harga bawang merah mengalami penurunan, tetapi intensitas transaksi di sentra bawang merah Pasar Sukomoro, Nganjuk masih rendah. Hal ini disebabkan karena para pedagang bawang merah masih khawatir akan terjadinya lagi lonjakan harga yang cukup tinggi, disamping pasokan yang masih minim.

“Saat ini harga bawang merah telah turun hingga Rp 8 ribu/ Kg dibandingkan beberapa hari lalu yang harganya antara Rp 12 ribu hingga Rp 14 ribu/ Kg,” terang Sutrisno, pedagang bawang merah Pasar Sukomoro, Nganjuk.

Dari pantauan @dakitanews.com, di Pasar Sukomoro saat ini hanya pedagang lokal yang melakukan transaksi. Sedangkan pedagang dari luar kota maupun luar pulau yang biasanya datang langsung ke sentra bawang merah Sukomoro tidak nampak.

Artinya pedagang lokal yang melakukan transaksi merupakan pedagang skala kecil yang kemudian dijual legi ke sejumlah pasar eceran. Diperkirakan, panen bawang merah seperti di daerah Kabupaten Brebes Jawa Tengah atau Probolinggo terjadi antara April sampai dengan Mei. “Petani bawang merah di Nganjuk masih sedikit yang panen, pasokan bawang merah dari Brebes maupun dari Probolinggo juga tidak ada,” terang Sutrisno.

Hal senada juga diungkapkan, Hariyanto yang tergolong pedagang bawang merah antar pulau. Dirinya selama hampir sebulan ini mengaku menganggur akibat harga bawang merah yang tidak segera stabil.

Apalagi ditambah dengan buruknya cuaca yang mengakibatkan petani bawang merah di Nganjuk enggan untuk menanam”Banyak faktor yang mempengaruhi harga bawang merah.Selain cuaca, pasokan maupun keberhasilan panen dari daerah lain juga menjadi penentu harga bawang merah,” papar Hariyanto kepada @dakitanews.com.

Apalagi saat ini harga bibit bawang merah juga tergolong tinggi, yang mencapai Rp 30.000 per kilogram membuat sebagian petani di Nganjuk semakin enggan menanam bawang merah pada musim tanam ini. “Sebulan lalu harga bibit (bawang merah) paling mentok Rp 15.000 per kilogram” ujar Hariyanto.

Selain harganya tinggi, bibit bawang merah yang tersedia pun semakin sedikit karena sebagian petani memanfaatkan momen harga jual tinggi sehingga mereka menjual seluruh hasil panen dan tidak menyisakan untuk bibit. Para petani yang tetap akan menanam bawang merah pun diimbau menggunakan bibit bawang merah seadanya.

Rendahnya traksaksi bawang merah di sentra bawang merah Sukomoro juga dikeluhkan oleh para buruh tani karena berdampak terhadap berkurangnya permintaan jasa mereka. Padahal, upah berkisar Rp 30.000 per hari dari pekerjaan menanam bibit bawang merah menjadi tumpuan utama bagi sebagian buruh tani tersebut.(Jati)

Keterangan Gambar : Ilustrasi petani bawang merah