Kediri(adakitanews.com)—Harga tomat di Kabupaten Kediri, Jawa Timur semakin turun sejak sepekan lalu setelah sempat bertahan di kisaran harga murah Rp 1.000 per kilogram di tingkat petani.

“Setelah harga tomat turun sampai Rp 1.000 per kilogram, satu bulan ini terus turun hingga Rp 500 per kilogram,” kata Charis, salah satu petani Tomat asal Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jum’at (16/10/20).

Charis mengaku, harga tomat yang terbilang rendah ini membuatnya enggan untuk memanen.

Pengeluaran anggaran membuat Charis enggan untuk memanen hasil berkebunnya yang sebenarnya sudah siap dipetik di lahan sekitar kurang lebih 1 hektar.

Dengan harga Rp 500 per kilogram, kata Charis, jelas petani merugi. Mengingat, biaya bertanam tomat lumayan besar apalagi jika petani menggunakan mulsa plastik untuk menutup media tanamnya.

“Kalau dihitung mulai pengolahan tanah, pembelian bibit, hingga pupuk lumayan besar sehingga dengan harga tomat Rp 500 per kilogram jelas tidak impas,” ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, kalau petani meminta bantuan orang lain (buruh) untuk memanen tomat, harga penjualan tomat tidak cukup untuk membayar upah buruh.

“Kalau dipanen ya keluar biaya lagi. Kita harus membayar orang untuk memetik satu persatu tomat ini,” katanya.

“Belum lagi saat telah dipetik masih perlu mendistribusikannya ke pengepul maupun pasar dan itu butuh biaya lagi. Kalau dihitung-hitung justru rugi kalau berniat untuk jual dengan rincian biaya tersebut,” imbuhnya.

Charis mengaku, murahnya harga tomat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya waktu panen raya dan tingkat daya beli masyarakat menurun akibat Covid-19.

Dengan demikian, Charis hanya bisa pasrah dan membiarkan tomat-tomat yang telah siap panen tersebut membusuk atau mengering.(oky).