ADAKITANEWSunduhan, Tulungagung – Pelaksanaan ujian nasional (UN) hari ketiga kemarin (15/04) sempat membuat peserta bingung ketika mengerjakan soal. Pasalnya, terjadi ketidakcocokan soal yakni listening. Rekaman yang diperdengarkan tak sesuai dengan soal yang diterima siswa. Meski demikian, pelaksanaan unas tetap berjalan hingga akhir.

Ina, salah seorang peserta unas SMA mengaku kaget saat rekaman yang diputar melalui pengeras suara setiap ruangan tak sesuai dengan naskah soal. Hal itu pun membuat bingung dan tak bisa dikerjakan. “Pertanyaan dalam naskah soal dengan rekaman tidak sama. Banyak yang rancu sehingga membuat bingung mau menjawab apa,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Ani, yang juga peserta unas. Menurut dia, kurangnya ketelitian panitia penyelenggaran unas menjadi penyebab ketidaksesuaian antara rekaman dengan naskah. “Misalnya dalam rekaman dijelaskan bunga, tapi dalam naskah justru membahas ikan,” katanya.

Dia melanjutkan, ada 15 nomor khusus soal listening. Hanya beberapa nomor yang bisa dikerjakan, selebihnya tidak sesuai. Setelah dilaporkan kepada pengawas ruang, dan dilakukan pemeriksaan, ternyata tidak ada kecocokan. “Saat mengerejakan, bingung, lapor ke pengawas dan akhirnya tidak dikerjakan. Untuk soal diluar listening masih bisa dikerjakan,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi,Sekretaris Dinas Pendidikan Tulungagung Bambang Triono membenarkan adanya hal tersebut. Menurut dia, kesalahan bukanlah pada pihak kabupaten melainkan panitia pusat. Oleh sebab itu, panitia unas di kabupaten hanya bisa melaporkan kejadina itu.

“Dalam berita acara pelaksanaan unas dijelaskan kejadian itu. Setelah kami koordinasikan dengan provinsi, hal itu terjadi di seluruh sekolah se Jawa Timur bahkan mungkin nasional,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kabid Dikmen Heru Mudjiono. Langkah yang ditempuh Dispendik tak hanya berkoordinasi dengan provinsi. Tim juga melaporkan kepada pantia khusus pemindaian yang berada di Universitas Negeri Malang (UM). Lokasi itu menjadi titik setor lembar jawaban komputer (LJK) dan pemindaian. “Nanti saya koordinasikan kepada tim pemindai tentang kondisi di lapangan. Kami juga membuat berita acara,” katanya saat ditemui di posko unas.

Ditanya adakah keringanan point untuk soal listening karena ada ketidaksosokan tersebut, Heru, sapaannya tak banyak memberikan jawaban. Menurutnya, keputusan itu bergantung panitia pusat. “Itu kewenangan pusat. Kami hanya melaporkan dan koordinasi apa yang terjadi sebenarnya,” jelasnya. (Bram).