ADAKITANEWSIMG_20150403_121053nasi aking 2nasi aking 3makan nasi aking 1, Nganjuk – Sukirah,80, warga Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk sejak 5 tahun terakhir makan nasi aking. Nenek ini bidup sebatangkara dan sudah tidak kuat lagi bekerja untuk mendapatkan makanan.

Dengan kerentaan usianya, sang nenek juga sudah tidak lagi bisa bergerak bebas. Sebab sejak beberapa tahun terakhir, kaki kanannya lumpuh. Ironisnya, meski kondisi kehidupannya sangat memprihatinkan, uluran tangan pemerintah tidak kunjung dia dapatkan.

“Saya hanya dikasih duit oleh pemerintah Rp. 300 ribu sebanyak tiga kali. Tapi sudah lama. Setelah itu tidak pernah menerima lagi, beras juga tidak pernah menerima,” ungkapnya.

Untuk menyambung hidupnya, nenek yang tinggal di rumah bambu ukuran 2 X 3 meter persegi ini hanya mengandalkan belas kasihan para tetangga. Makanan yang acapkali dikirim para tetangga, tidak serta merta dia habiskan. Makanan itu sebagian dia sisihkan untuk dikeringkan.

Alasanya, makanan itu agar bisa disimpan untuk persediaan jika tidak ada warga yang mengirim makanan. Nasi kering itu kembali dia olah sebagai pengganjal rasa lapar yang dia rasakan.

“Biasanya ada tetangga yang mengirim makanan. Sebagian dikeringkan untuk disimpan, kalau tidak ada yang mengirim makanan baru dimasak,” tuturnya.

Sementara, pihak pemerintah desa beralasan, Sukirah tidak menerima bantuan dari pemerintah karena tidak terdata. Pihak pemerintah desa mengaku sudah mengajukan pada pemerintah Kabupaten Nganjuk, namun hingga kini belum ada respon.

“Selama ini memang Sukirah makan nasi aking, yaiktu nasi yang dikeringkan kemudian dimasak kembali. Repotnya Sukirah tidak masuk data penerima bantuan pemerintah, padahal kita sudah ajukan berkali-kali, tapi belum ada tanggapan,” jelas Samuri, Staf Pemerintahan Kelurahan Warujayeng. (jati)

Keterangan Gambar :  Nenek Sukirah,80, warga Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk sejak 5 tahun terakhir makan nasi aking dan hidup sebatang kara