ADAKITANEWSjembatan bareng, Nganjuk – Banjir susulan menerjang jembatan darurat yang di buat warga Desa Bareng Kecamatan Sawahan. Jembatan darurat dari bahan batang bambu sepanjang 40 meter dengan lebar 1 meter itu, Ambruk dengan kondisi tiang penyangga menggantung akibat diterjang derasnya arus sungai akibat banjir yang terjadi pada Jum’at (21/2)malam pukul 22.00 wib.

Akibat ambruknya jembatan darurat itu, warga kembali memfungsikan jembatan lama yang sudah ambrol beberapa waktu yang lalu, meski harus ektra hati-hati. Warga setempat terpaksa memfungsikan jembatan lama yang sudah ambrol itu, karena Jembatan Bailey yang dijanjikan Pemkab Nganjuk hingga kini tak kunjung datang.

Menanggapi hal ini, Suko Purwoko SH, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Nganjuk, mengatakan, jembatan darurat yang dibangun di sisi selatan Jembatan Bareng itu semalam ambruk akibat diterjang Banjir, sehingga  sudah tidak bisa dilewati lagi, baik oleh pejalan kaki maupun pengendara motor. ” Kondisi jembatan sudah miring. Dan tiang-tiang penyangga yang juga berbahan batang bambu sudah mengambang dari dasar sungai, sehingga hampir hanyut terbawa arus. Padahal jembatan darurat dari bambu ini, baru difungsikan sekitar seminggu lalu,”terang Purwoko pada @dakitanews.com.

Ditambahkan, Pasca Ambruknya jembatan lama, sejak 30 januari yang lalu, Pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)Kabupaten Nganjuk, supaya dibangun Jembatan Bailey. “Kemarin say koordinasi ke BPBD, katanya jembatan Bailey sudah ada, tapi belum didatangkan kesini,”imbuh Suko Purwoko, yang juga mantan Kepala desa setempat.

Sementara itu, beberapa pihak menyebutkan, amrolnya jembatan darurat dan difungsikannya kembali jembatan lama yang sudah ambrol oleh warga setempat, akibatnya lambannya penanganan dari Pihak Pemkab Nganjuk, hingga terkesan mengulur-ulur waktu. Terbukti hingga jembatan darurat ambrol, pihak pemkab belum juga mendatangkan jembatan bailey. Padahal jembatan bailey sangat diperlukan oleh warga yang menggantungkan nasibnya melalui jembatan tersebut.

Dan sebanyak 1.200 kepala Keluarga (KK) yang berjumlah 4 ribu warga terancam terisolir jika jembatan lama ini benar-benar hanyut dibawa arus sungai, sementara jembatan bailey belum ada.

Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Nganjuk, Soekonjono,MT mengelak disebut terlalu mengulur-ulur waktu pemasangan jembatan Bailey. Justru usahanya untuk segera menurunkan ke lokasi bencana sudah dilakukan sejak pertama jembatan putus.

Jembatan bailey yang rencananya didatangkan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jatim itu sudah siap kirim. Hanya saja, jelas Soekonjono, Pemkab Nganjuk kini masih menunggu persyaratan administrasi untuk membawa jembatan senilai sekitar 400 juta itu ke Bareng. “Barangnya sudah siap, tinggal menunggu proses,” katanya.

Beruntung, kejadian banjir bandang susulan itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun aktifitas warga terganggu, dan berdampak pada perekonomian mereka.

Dampak serta Imbas akibat putusnya jembatan Desa Bareng tersebut menyebabkan, sekitar 80 persen warga Desa Bareng yang terdiri dari petani dan buruh tani, kesulitan menjual hasil bumi keluar desa.

Termasuk sekitar 500 anak usia TK, SD, SMP dan SMA di Desa Bareng,70 persennya kesulitan akses karena bersekolah di luar desa. Juga setiap minggu ada puluhan warga yang butuh pelayanan medis ikut kesulitan akses, karena perlu dirawat di Puskesmas Sawahan hingga RSUD Nganjuk. Di Desa Bareng hanya tersedia pelayanan dari bidan desa.

Selain itu, kerugian juga dialami oleh sebagian warga Desa Bareng yang menjadi PNS, pedagang pasar hingga pegawai swasta yang bekerja di luar Sawahan. (Kmto/jati)