ADAKITANEWS, Sidoarjo – Kabar meninggalnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 lalu, rupanya membuat Iffa Suraiya berubah. Wanita 49 tahun ini mulai mengaktualisasikan dirinya sejak tujuh tahun yang lalu.

“Saat itu saya sedang belanja buku di Surabaya. Lalu saya melihat TV yang mengabarkan Gus Dur meninggal. Saya langsung ingat wejangan Gus Dur ketika pernah lesehan bareng di Jombang sekitar 1999, beliau bilang percuma kamu baca buku banyak, kalau tidak ada manfaatnya bagi diri dan orang lain. Wejangan itu seakan menampar saya kembali dari peristiwa meninggalnya beliau,” jelasnya ketika ditemui di perpustakaannya di kawasan Larangan Mega Asri, Sabtu (21/10).

Wejangan Gus Dur tersebut rupanya membuat wanita asal Jombang ini
memutuskan membuka perpustakaan bernama Bait Kata Library (BKL) pada 28 Desember 2011 silam. Iffa mengaku menemukan jati dirinya sebagai pegiat sosial Kota Delta yang menanamkan semangat literasi bagi anak-anak Sidoarjo hingga sekarang ini.

Iffa mengatakan seluruh biaya operasional BKL ditanggung Iffa sendiri. Untuk menyiasati agar tak mengganggu keuangan keluarga, Iffa kerap membuat event, workshop, hingga konsultasi perkembangan anak. “Meskipun BKL ini sifatnya kegiatan sosial, tapi kami melakukannya secara profesional dan bertanggung jawab. Bahkan gaji karyawan kami ini kami sesuaikan dengan UMK,” katanya.

Menurutnya kemampuan literasi orang tua khususnya ibu menjadi acuan kemampuan anak untuk menjadi sosok cerdas dan toleran. “Sosok ibu, adalah google pertama bagi anak-anaknya. Anak bertanya pertama kali melalui ibunya. Karena itu literasi di kalangan orangtua, khususnya ibu, merupakan hal penting,” paparnya.

Atas upayanya untuk menggiatkan gerakan literasi tersebut, pada 12 September 2017 lalu Iffa dianugerahi penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka oleh Kepala Perpustakaan RI, Muhammad Syarif Bando. Bait Kata dipilih karena Iffa ingin menjadikan perpustakaannya rumah buku.

Enam tahun perjalanan tersebut, kini BKL telah memiliki 1700-an anggota dan 11.000 lebih koleksi buku. Koleksinya lebih banyak tentang sastra ketimbang buku-buku politik. Menurutnya, sastra mengantarkan daya imajinasi seseorang untuk lebih kreatif.

Meski saat ini banyak buku-buku digital (e-book) di internet, namun menurutnya buku bukanlah sesuatu yang usang. “Saya rasa perpustakaan masih bertahan meskipun saat ini zamannya sudah zaman digital,” pungkasnya.(pur)

Keterangan gambar : Iffa Suraiya saat berada di perpustakaannya.(foto: mus purmadani)

https://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171022_200003-1024x574.jpghttps://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171022_200003-150x150.jpgREDAKSIGaya HidupBerita sakti peran cinciaA
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Kabar meninggalnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 lalu, rupanya membuat Iffa Suraiya berubah. Wanita 49 tahun ini mulai mengaktualisasikan dirinya sejak tujuh tahun yang lalu. 'Saat itu saya sedang belanja buku di Surabaya. Lalu saya melihat TV yang mengabarkan Gus Dur meninggal. Saya langsung ingat wejangan...