ADAKITANEWS, Tulungagung – Pemerintah melakukan pengurangan jatah pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Tulungaung pada tahun ini. Pengurangan jatah ini akibat jatah pupuk pada tahun 2017 lalu tidak seluruhnya terserap. Jenis pupuk yang mengalami pengurangan itu diantaranya adalah SP 36 sebanyak 24 ton dan Phonska sebanyak 1.483 ton.

Kepala Seksi (Kasi) Pupuk Pestisida dan Alat Mesin Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tulungagung, Tri Widiyono Agus Basuki mengakui terjadinya pengurangan alokasi pupuk tersebut. “Benar ada pengurangan pada dua jenis pupuk yakni Phonska dan Sp36. Namun pengurangan itu tidak begitu banyak,” kata Tri Widiyono Agus Basuki, Selasa (16/01).

Okky, panggilan akrab Tri Widiyono Agus Basuki, mengatakan untuk pupuk bersubsidi yang mengalami pengurangan yakni pupuk Sp36 yang sebelumnya 1.741 ton, untuk tahun ini sekitar 1.717 ton atau mengalami pengurangan sekitar 24 ton. Sedangkan untuk NPK/Phonska yang pada tahun 2017 mendapatkan 19.550 ton, sedangkan pada tahun 2018 ini mendapatkan alokasi pupuk sebesar 18.067 ton atau ada pengurangan sebesar 1483 ton.

Tri Widiyono menjelaskan adanya pengurangan pupuk bersubsidi ini dikarenakan pada tahun 2017 lalu, ada sekitar 1.000 ton pupuk jenis NKP/phonska yang tidak tertebus atau tidak diambil oleh petani. Karena itu oleh pusat alokasi pupuk NPK/phonska di Tulungagung dikurangi.

Meski untuk kedua jenis pupuk tersbut mengalami pengurangan, namun disisi lain ada beberapa jenis pupuk yang mengalami kenaikan dalam alokasi tahun ini. Seperti urea di tahun sebelumnya sekitar 27.701 ton, untuk tahun ini mendapatkan tambahan sebesar 215 ton menjadi 27.916 ton, kemudian ZA yang sebelumnya mendapatkan 10.646 ton, pada tahun ini naik menjadi 11.414 ton atau naik sekitar 768 ton. Kenaikan yang cukup banyak juga ada pada jenis pupuk organik, yang mana sebelumnya sekitar 12.648 ton kini menjadi 14.741 ton atau mengalami kenaikan sekitar 2.093 ton.

Tri Widiyono pun mengimbau bagi petani agar tidak khawatir adanya pengurangan pupuk bersubsidi tersebut. Karena pihaknya masih akan mengusulkan tambahan pupuk. “Kita lihat sampai pada Februari nanti, karena penggunaan pupuk sangat fluktuatif, tergantung cuacanya. Jika memang perlu tambahan pupuk, kami akan mengajukannya,” katanya.(bac)

Keterangan gambar : Petani sedang mencampur pupuk yang akan digunakan.(foto : acta cahyono)