width=

ADAKITANEWS, Kota Kediri – Setiap daerah mempunyai kebiasaan sendiri dalam memperingati momentum yang dihormati. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Sukorejo Desa Karang Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, Sabtu (11/03).

Dalam memperingati musim panen dan musim tanam, warga sekitar mengadakan seni tari jaranan kuda kepang. Kesenian jaranan kuda kepang atau yang kebanyakan orang menyebut jathilan, merupakan kesenian tradisional yang sudah hampir jarang ditemui dan dilakukan oleh anak muda.

Jathilan berasal dari kata jathil, yang mengandung arti menimbulkan gerak reflek melonjak, sebagai tanda memperoleh kebahagiaan. Jathilan sendiri merupakan seni tari, yang di dalamnya mengisahkan cerita Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji, legenda Kediri.

“Disebut juga jaran kepang karena tarian ini mempergunakan alat peraga berupa jaranan (kuda-kudaan,red) yang bahannya terbuat dari kepang (bambu yang dianyam). Sedangkan kuda lumping juga mempunyai arti yang sama karena lumping berarti kulit atau kulit bambu yang dianyam, sehingga secara bebas dapat diartikan sebagai pertunjukan dengan kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit bambu,” ujar Saiful, salah satu pemain jaranan kuda kepang.

Mengamati perkembangan kuda lumping dari masa ke masa, akan tampak suatu bentuk tari yang bersumber dari cerita Panji. “Cerita yang berasal dari zaman kerajaan Jenggala dan Kediri. Cerita ini mengalami kejayaan pada zaman kerajaan Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bentuk-bentuk seni tari yang bersumber pada cerita yang sama di tempat-tempat lain yang mendapat pengaruh kerajaan Majapahit,” tambahnya.

Pada masa tersebut, kata Saiful, masyarakat mayoritas memeluk agama Hindu, yang percaya akan adanya roh leluhur. “Pertunjukan jathilan sebelumnya dimaksudkan untuk memanggil roh-roh halus dari nenek moyang. Dari tradisi yang turun temurun dan pengaruh situasi, menyebabkan pertunjukan kuda lumping dipentaskan hingga para pemainnya kesurupan (kehilangan kesadaran). Dan dalam keadaan demikian pemain mampu melakukan hal-hal di luar kemampuan manusia normal,” terangnya.

Kesurupan timbul diperkirakan sebagai akibat bunyi-bunyian yang khusus dan berirama mistis dengan gerakan yang monoton. “Pemain menari dengan berkonsentrasi terhadap keyakinan akan datangnya roh-roh. Mula-mula terasa pusing-pusing, seterusnya kehilangan daya pikir dan akhirnya menjadi kesurupan roh-roh halus,” tutupnya.(kdr8)

Keterangan gambar: Suasana pertunjukan kuda kepang atau Jathilan di Dusun Sukorejo Desa Katang Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri.(foto: Sugiono)