ADAKITANEWS, Nganjuk – Harga bawang merah di Kabupaten Nganjuk memasuki musim panen raya justru mengalami penurunan drastis. Ditengarai, anjloknya harga bawang merah lantaran meningkatnya stok di pasaran serta akibat cuaca yang kurang bersahabat maupun hama ulat yang mempengaruhi kualitas tanaman bawang merah.

Informasi yang dihimpun Tim Adakitanews.com, ada sekitar 6 kecamatan di Kabupaten Nganjuk yang mengalami dampak tersebut. Akibatnya, petani juga mengalami penurunan hasil panen sekitar 60 persen, dari yang sebelumnya 1 hektare sawah menghasilkan 12 ton bawang merah, kini hanya mampu menghasilkan 5 ton bawang merah saja.

Hasil panen dari petani yang turun itu masih diperparah dengan anjloknya harga di pasaran karena adanya musim panen raya. Akibat musim panen raya saat ini, stok bawang merah di pasaran meningkat secara signifikan. “Panen kita hancur karena jumlahnya hanya sedikit. Itu masih diperparah dengan turunnya harga di pasaran karena sekarang masuk musim panen raya. Selain itu kemungkinan stok juga masih banyak di pasaran,” keluh Susanto, petani bawang merah Asal Desa Gandu, Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, Jumat (05/08).

Data yang dihimpun, harga bawang merah yang ada di tingkat petani hanya berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kilogram. Angka itu terpaut sangat jauh dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 32 ribu per kilogramnya. Sementara, harga bawang merah di tingkat pasar, khususnya Pasar Sentra Bawang Merah Sukomoro Nganjuk, saat ini berada di angka Rp 18 ribu hingga Rp 24 ribu per kilogramnya.

Harga tersebut mengalami penurunan secara drastis dibandingkan harga bawang merah sepekan terakhir yang mampu menyentuh angka Rp 35 ribu per kilogram. Dampaknya, harga yang rendah membuat keuntungan petani di Kabupaten Ngajuk menurun, bahkan beberapa petani mengaku jika hanya bisa balik modal saja. “Panen raya kali ini, hanya bisa balik modal saja sudah untung,” imbuh Susanto.

Para petani harus menghabiskan Rp 70 juta sampai Rp 80 juta per hektarenya untuk proses penanaman mulai dari membeli bibit, penanaman, perawatan hingga pembelian obat-obatan. Namun saat harga turun drastis para petani harus menambah biaya karena bibit bawang merah yang mereka beli naik dua kali lipat, dari yang sebelumnya antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu, kini mencapai Rp 50 ribu.

Petani berharap agar pemerintah tidak mengimpor bawang merah saat ini, karena dikhawatirkan akan semakin menyebabkan kerugian di kalangan petani dan pedagang lantaran stok barang yang melimpah. “Penurunan harga seperti saat ini jelas membuat kita merugi jika dibandingkan harga sebelumnya,” ujar Paniyem, salah satu pedagang bawang merah di Pasar Sukomoro.(Jati)