ADAKITANEWS, Nganjuk – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Nganjuk menyebabkan jembatan penghubung antara Desa Gempol, Kerep, dan Kedungdowo patah. Akibatnya aktivitas warga serta anak sekolah terhambat lantaran mereka terpaksa harus berjalan memutar sejauh lima kilometer.

Samsul, warga Gempol mengaku akibat putusnya jembatan yang merupakan satu-satunya akses jalan warga itu menyebabkan terhambatnya aktivitas perekonomian. ”Ya macet, kita tidak bisa jualan. Ini tetangga juga malas ke sawah,” ujarnya, Senin (03/10).

Samsul mengatakan, ambrolnya jembatan bermula pada Minggu (02/10) sore saat terjadi hujan yang cukup deras. Kondisi itu menyebabkan volume air bah yang melintas di jembatan menjadi meningkat hingga jembatan ambrol. ”Tahunya pagi jam 5. Warga bingung karena tidak bisa melintas,” imbuh Samsul.

Warga yang hendak melintaspun terpaksa harus memutar arah. Bahkan, siswa sekolah yang berada di sekitar jembatan harus memutar sejauh 5 kilometer. ”Lewatnya mutar dulu jauh dan terpaksa terlambat waktu sampai di sekolah,” ujar Agus, salah satu Siswa SDN Kedungdowo yang selalu melintas jembatan tersebut.

Sementara, Kepala Desa Kedungdowo, Teguh Murjoko mengaku sudah memastikan patahnya jembatan disebabkan lantaran kondisi bangunan yang sudah tua. ”Itu tiang utamanya dibangun sejak puluhan tahun lalu. Tapi bahu jembatanya relatif baru,” kata Teguh yang mengaku juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait.

Teguh berharap agar pemerintah Kabupaten Nganjuk segera mengambil sikap untuk memperbaiki kondisi jembatan tersebut. “Agar aktivitas warga yang selama ini mengandalkan akses jembatan segera bisa dikembalikan,” jelentrehnya.(Jati)

Keterangan Gambar: Kondisi Jembatan yang patah dan membahayakan di tutup warga.(Foto : Bagus Jatikusumo)