width=

20161018_090221ADAKITANEWS, Kediri – Kepala Sekolah Luar Bisa ‘SLB Ngasem’ berharap dua belas guru sukarelawan (sukwan) diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) oleh Pemerintah Daerah. Pasalnya, selama sebelas tahun pengabdian honor yang diterima guru swasta tersebut hanya sebatas pengganti uang transportasi. Selain itu, pihak sekolah berkeinginan siswa siswinya mendapatkan bantuan berupa alat-alat penunjang belajar untuk bekal masa depan.

Pantauan adakitanews.com, tepat pukul 08.00 WIB siswa siswi SLB Ngasem mengikuti mata pelajaran disetiap kelas  dengan ditemani satu hingga dua tenaga pengajar sukarelawan (sukwan). Beberapa dari mereka sebagian juga berada di teras sekolah bersama orang tua.

“Kami harap pemerintah mengakat 12 guru sukwan¬† menjadi PNS,” ungkap Imam Suhadi Kepala SLB Ngasem Kabupaten Kediri, Selasa (18/10).

Menurutnya, 12 tenaga pengajar swasta tersebut sudah layak menjadi seorang PNS karena pengabdiannya terbilang cukup lama di SLB Ngasem. Imam Suhadi menambahkan, pihak sekolah selama ini hanya mampu mengganti uang transportasi para guru sukwan tersebut.

“Honor para guru sukwan hanya cukup untuk transportasi, tidak lebih dari itu,” jelasnya.20161018_090237

Saat ditanya lebih jauh mengenai besar honor pegawai sukwan, Imam Suhadi enggan menjelaskan dengan rinci. Dirinya hanya menuturkan, honor pegawai sukwan hanya cukup untuk membeli bensin. “Honornya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan lain,” ujarnya.

Sementara Nur Fadhilah bagian kurikulum SLB Ngasem berharap, Pemerintah Daerah secepatnya mampu memberikan bantuan berupa laptop untuk menunjang belajar mengajar siswa siswi tuna rungu. Bagi Nur Fadhilah, anak tuna rungu memiliki kepekaan dan semangat yang tinggi dalam mempelajari Informasi dan Teknologi (IT).

“Skil yang dimiliki anak tuna rungu dalam mempelajari IT sangatlah tinggi. Namun, pihak sekolah masih belum mampu memenuhi kebutuhan mereka untuk memperdalam minat bakatnya,” tegasnya.

Sulistiyowati wali murid yang kebetulan anaknya sebagai penyandang tuna rungu di SLB Ngasem menjelaskan, Pemerintah Kediri tidak sepatutnya menganak tirikan SLB Ngasem dan memuja-muja sekolah negeri. Baginya, setiap anak di Indonesia patut memperoleh pendidikan layak dan berkualitas.

“Anak berkebutuhan khusus juga berhak memperoleh pendidikan layak di Negeri ini,” urai Sulistiyowati.

Untuk diketahui, SLB Ngasem memiliki 12 guru sukwan, 1 guru PNS serta 72 siswa siswi dari tingkat TKLB hingga SMALB. (blot)

Keterangan Gambar: SLB Ngasem berharap Pemerintah Daerah memperhatikan nasib 12 guru sukwannya. (foto:iwan fahmi)