ADAKITANEWS, Kota Blitar – Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Blitar Kota berhasil menangkap 5 tersangka kasus narkoba. Empat diantaranya merupakan pengedar obat keras berbahaya, sedangkan 1 tersangka terkait kasus sabu-sabu.

Kasatnarkoba Polres Blitar Kota, AKP Huwahila Wahyu Yuha mengatakan, empat tersangka diamankan lantaran mengedarkan obat batuk merk Dexikof. Dari tangan para pelaku petugas berhasil mengamankan sebanyak 17.092 butir pil Dexikof. Diantara ribuan pil Dexikof itu, ada yang sudah siap diedarkan dengan dikemas plastik klip, dan ada pula yang masih dalam kemasan boks.

“Empat tersangka diantaranya Indra Setyawan, 32, warga Desa/Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar. Heri Praminto warga Desa Kalirejo Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Didik Sujatmiko, 46, warga Desa Kauman Kecamatan Wlingi, dan Saiful Huda, 26, warga Desa Tangkil Kecamatan Wlingi. Sedangkan 1 pelaku kasus sabu-sabu berinisial DDP, 24, warga Kepanjenkidul Kota Blitar dengan barang bukti 0,26 gram sabu-sabu,” jelasnya, Selasa (30/01).

AKP Huwahila Wahyu Yuha menjelaskan, keempat pengedar obat keras berbahaya tersebut ditangkap di empat tempat yang berbeda. “Awalnya kami mendapatkan laporan dari masyarakat terkait maraknya peredaran obat keras berbahaya di wilayah hukum Polres Blitar Kota. Setelah kami lakukan penyelidikan kami berhasil membekuk empat pengedar,” ungkapnya.

Menurutnya, sebenarnya Dexikof merupakan obat yang dijual bebas di apotek ataupun toko obat. Namun pembelian obat ini dibatasi sesuai dengan kebutuhan, dan bukan untuk diedarkan kembali. Berdasarkan keterangan, pelaku mendapatkan pil Dexikof tersebut dari Madiun. “Pil Dexikof tersebut dikemas kembali dalam plastik klip, per boksnya dibeli seharga Rp 60 ribu kemudian dijual kembali Rp 100 ribu,” imbuhnya.

Sementara berdasarkan pengakuan salah satu pelaku, konsumsi pil Dexikof dalam jumlah tertentu akan menimbulkan efek Fly, sama seperti mengkonsumsi dobel L. “Efeknya ngefly sama seperti konsumsi dobel L,” ungkap salah satu pelaku.

Akibat perbuatannya keempat pelaku melanggar pasal 36 undang-undang kesehatan RI dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Sedang 1 pelaku dijerat pasal 112 ayat 1 undang-undang RI nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun penjara.(fat/wir)

Keterangan gambar: AKP Huwahila Wahyu Yuha saat menunjukkan barang bukti.(foto : fathan)