ADAKITANEWS2015-10-16_11.02.43, Madiun – Selama bulan Muharram atau Suro ada 2 event besar biasa dilakukan massa 2 perguruan silat, yakni Perguruan Setia Hati Terate (PSHT) dan Perguruan Setia Hati Tunas Muda (PSHTM) Winongo. Dua event itu selalu mendapat perhatian serius bagi kalangan aparat keamanan di eks Karesidenan Madiun, apalagi kedua perguruan itu berpusat di Kota Madiun. Untuk mengantisipasi konflik yang acapkali terjadi, pihak kepolisian menekankan seluruh perguruan silat mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji dalam pertemuan dengan Paguyuban Pencak Silat Kota/Kabupaten Madiun, Kamis (15/10) malam lalu, menyampaikan sejumlah harapan agar kondisi Madiun sekitarnya tetap aman dan kondusif. Ia juga meminta sejumlah masukan dari pimpinan sejumlah perguruan silat, demi menjaga kebersamaan hingga keamanan.

“Demi terjaga keamanan hingga kenyamanan, saya hanya menginggatkan laksanakan komitmen sudah disampaikan yaitu lakukan kegiatan sesuai kesepakatan. Saya mendapatkan informasi beberapa tahun lalu, ada satu kesepakatan dilakukan sejumlah perguruan silat, khususnya 2 perguruan itu (PSHT dan PSHTM Winongo),” tandas Kapolda Jatim.

Mantan Kapolres Ngawi tahun 1999 ini menyatakan hendaknya menjaga komitmen telah disepakati bersama, jika hal itu diterapkan dapat menimbulkan rasa tenang dimasyarakat. “Saya sudah sampaikan kepada para Kapolres di Madiun sekitarnya, dalam menghadapi 2 event perguruan agar dikawal dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kerawanan gangguan,” ujarnya lagi.

Jika dalam kegiatan sebelumnya jelang atau pas pergantian tahun baru 1 Muharram lalu gelar pasukan dilaksanakan Polres jajaran dianggap berlebihan, pria kelahiran Malang, 2 Januari 1959 ini menyatakan segera lakukan evaluasi.

“Saya akan perintahkan agar pasukan dianggap banyak agar ditarik, tapi dengan jaminan dari perguruan silat itu sendiri, mereka bisa tertib. Jika tidak tertib, saya bisa langsung perintahkan agar ditindak tegas, jika perlu mereka melakukan aksi anarkis saya suruh agar diperiksa di Polda Jatim,” ujar lulusan AKABRI terbaik 1983 ini.

Sebelumnya, Ketua PSHT H Tarmadji Boedi Harsono meminta kepada Kapolda agar melakukan evaluasi atas pengamanan dianggap berlebihan dalam pergantian malam 1 Muharram dan 1 Muharram sendiri lalu. “Kehadiran aparat begitu banyak, justru mendatangkan kesan kondisi seperti mencekam, jika memungkinkan agar dikurangi,” ujarnya.

Begitu juga, perwakilan dari PSHTM Winongo Y Ristu Nugroho meminta agar kehadiran dalam mengawal kegiatan rutin perguruan agar diperlonggar. “Kami tetap ingin menghadiri kegiatan Suran Agung di pusat peguruan di Kota Madiun, cukup diakomodir dengan perwakilan dari masing-masing pengurus kecamatan,” ujarnya.

Dilaporkan, kegiatan Kapolda Jatim, Jum’at (16/10) melakukan pengarahan kepada jajaran di Madiun sekitar, peresmian GOR dan kegiatan lain. (UK).

Keterangan foto: Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji tengah berbincang-bincang dengan Ketua Paguyuban Pencak Silat H Tarmadji Boedi harsono dalam cangkrukan digagas Kapolres Madiun AKBP Yoyon Tony Surya Putra.