ADAKITANEWS, Jombang – Apakah arti kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apakah arti berfikir bila terpisah oleh masalah kehidupan.(WS.Rendra; sajak sebatang lisong).

========

Seperti potongan sajak dari puisi WS Rendra. Itulah gambaran seni yang seyogyanya berjalan beriringan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh para pemuda di Kabupaten Jombang, menjelang peringatan Hari Pahlawan tahun ini. Para pemuda dari berbagai latar belakang, diantaranya akademisi, komunitas, serta organisasi, bersama-sama menggelar acara Workshop Sablon Cukil Kayu dan Pameran Hasil Karya Sablonase, di Taman Keplaksari Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang, Minggu (06/11) pagi.

Menurut salah satu panitia, acara ini adalah sebuah kegiatan yang bermula dari kerisauan para pemuda terhadap kondisi generasi penerus sekarang yang dianggap sudah melampaui batas kewajaran norma. Dengan adanya acara kepemudaan seperti ini, diharapkan mampu berdampak positif terhadap pengembangan pemikiran para pemuda melalui kesenian dan keterampilan.
Acara ini bukan hanya diisi dengan workshop sablon cukil kayu saja. Tetapi juga melibatkan Taman Baca Rakyat dari BPK Oi (Badan Pengurus Kota – Orang Indonesia) Kabupaten Jombang.

Mas Ipung, salah satu penggiat seni sablon cukil kayu yang ada di kota santri ini menjelaskan, bahwa acara ini salah satu tujuannya adalah untuk memperkenalkan seni sablon cukil kepada masyarakat Jombang pada umumnya. Sablon cukil kayu ini memang tergolong baru. Tapi, dijelaskan oleh kawan-kawan dari Sanggar Akar Rimba yang dipimpin oleh Mas Ipung, bahwasanya seni sablon cukil ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Waktu itu seni sablon cukil kayu berfungsi sebagai alat berita berupa poster yang dicetak melalui sablon cukil tersebut.

“Sablon cukil kayu ini tidak hanya sebuah media seni tapi juga sebuah media kritik terhadap kehidupan sosial masyarakat dan politik pemerintah,” ungkap Mas Ipung.

Selain seni sablon cukil kayu dan Taman Baca Rakyat, turut hadir dalam acara tersebut, yakni elemen mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang mengisi panggung orasi. Salu satu anggota GMNI, Ifa dan Meytia berdiri di tengah kerumunan pengunjung sambil berorasi dan membacakan puisi perihal kondisi pemuda hari ini dengan iringan musik dari Komunitas Musik Country Jombang.

Keramaian dan keseruan tersebut berlangsung sampai sore hari. Salah satu pengunjung asal Desa Mojowarno, Hanim Citra mengaku sangat mengeapresiasi semangat yang dikobarkan oleh pemuda Jombang hari itu. “Sudah selayaknya pemuda berkreasi untuk menunjukkan jiwa mudanya. Acaranya sungguh edukatif dan menghibur,” ujarnya.(ar)

Keterangan gambar: Karya seni yang disuguhkan para pemuda Jombang, menjelang peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember mendatang.(foto: Adi Rosul)