Kasus DBD Terus Ancam Tulungagung

Nyamuk aedes Aegyptu@dakitanews Tulungagung – Dalam kurun tiga bulan terakhir sejak bulan Oktober 2014 hingga Desember 2014, kasus demam berdarah di Kabupaten Tulungagung terus mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah kasus, persebaran wilayah, maupun kawasan endemi penyakit menular mematikan ini.

Penyakit yang disebabkan virus DBD (demam berdarah dengue) yang dibawa nyamuk aedes aegypti, hingga sampai pertengahan bulan Januari 2015 sudah tercatat 19 kasus demam berdarah (DB) dan hal ini dimungkinkan akan bertambah lagi.

Kabid Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Didik Eka mengatakan, hingga pertengahan Januari ini pihaknya telah menerima laporan DB sebanyak 19 kasus. Hal Ini tercatat sudah hampir separuh dari kasus bulan Desember 2014 yang mencapai 41 penderita.

Dia tidak menampik kemungkinan kasus DB selama periode Januari akan lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya.“Diperkirakan kasus DB pada bulan Januari akan bertambah,” katanya.

Mengacu grafik kasus pada tahun-tahun sebelumnya, kasus demam berdarah selalu mengalami peningkatan dan bahkan mencapai puncaknya pada Maret. Tidak hanya kuantitas kasus yang cenderung meningkat, dimana pada bulan Oktober 2014 sebanyak 22 kasus, November 2014 sebanyak 10 kasus, dan Desember sebanyak 41 kasus.

Persebaran penyakit ini juga ditengarai meluas. “Kami terus mengantisipasi hal ini dengan terus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan puskesmas,” paparnya.

Didik menunjukkan grafik endemisitas DBD di daerahnya selama periode empat tahun terakhir (2010-2014), dimana jumlah perkampungan yang menjadi langganan penyakit ini pada 2014 sebanyak 43 desa / kelurahan. Jumlah itu meningkat dibanding tahun 2013 yang hanya 23 desa dan 2012 sebanyak 24 desa.

“Daerah (desa) dikatakan endemis itu jika selama kurun tiga tahun berturut – turut selalu ditemukan kasus DBD,” jelasnya. Akan tetapi tercatat nilai tertinggi wilayah endemis terjadi pada 2010 dimana kawasan yang menjadi langganan penyakit DBD ini mencapai hingga 138 desa dan pada 2011 turun menjadi 42 desa.

Dia berharap, peningkatan kasus bisa terkendalikan dengan mengintensifkan program PSN (pemberantasan sarang nyamuk), pengasapan, serta pemantauan/pengawasan selama masa inkubasi nyamuk pembawa virus DBD.

Setiap ditemukan kasus penderita DBD positif, kami akan langsung melakukan penyelidikan epidemologi (PE).“Jika ditemukan ada jentik nyamuk di minimal 20 rumah sekitar tempat tinggal penderita, atau lima warga yang mengeluh demam tanpa sebab, kami pasti akan lakukan tindakan untuk mencegah agar tidak terjadi penyebaran kasus,” pungkasnya.(Bram)

Keterangan Gambar : ilustrasi gambar nyamuk aedes Aegypti

Recommended For You