ADAKITANEWS, Madiun – Kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di Kabupaten Madiun sepanjang 2015 dan 2016 tergolong tinggi. Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan perlu menjadi perhatian bersama.

Demikian disampaikan Kepala Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan Kabupaten Madiun, Siti Zubaidah saat membacakan sambutan Bupati Madiun. Muhtarom dalam acara Penanganan dan Perlindungan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, yang dihadiri oleh Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Madiun, Lies Iswanto, para kepala desa, penggerak perempuan dan lainnya, Selasa (13/12).

“Sesuai data dan laporan, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Madiun tahun 2015 sebanyak 20 laporan. Sedangkan tahun ini (2016,red) ada 20 laporan. Pemkab Madiun terus berupaya untuk meminimalisir terjadinya kasus itu,” ujarnya.

Dikatakan Siti Zubaidah, kerjasama dengan segala pihak termasuk masyarakat perlu mendapat dukungan. Sementara, guna memberikan bantuan bagi penanganan kasus hingga pendampingan terhadap korban, Siti Zubaidah mengatakan perlu dibentuk Pokja Konsultasi tingkat desa/kelurahan, kecamatan hingga kabupaten.

Selain itu, dalam menjalankan peran dan kinerja untuk menangani perempuan dan anak korban tindak kekerasan, pemerintah daerah diharap turut serta terhadap lembaga masyarakat dan organisasi masyarakat lain sebagai upaya membangun gerakan bersama dalam mencegah dan menghapus tindak kekerasan.

Siti menambahkan, tujuan lain kegiatan tersebut adalah agar mampu melahirkan konsep kehidupan perempuan dan anak yang jauh dari masalah seperti kesehatan dan sosial. “Semoga dapat diterapkan dalam rangka melindungi perempuan dan anak,” pungkasnya.(uk)

Keterangan gambar: Kepala Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan Kabupaten Madiun, Siti Zubaidah saat membuka kegiatan dengan membacakan sambutan Bupati Madiun, Muhtarom.(Foto: Agoes Basoeki)