ADAKITANEWS Jombang – Aparat penegak hukum di Jombang, diminta bekerja secara profesional dengan menerapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak terkait kasus kekerasan yang menewaskan Abdullah Muzzaka Yahya, 15, santri Pesantren Darul Ulum, Kecamatan Peterongan, Minggu (29/02) lalu.

Desakan itu disampaikan oleh aktivis Lingkar Indonesia Untuk Keadilan (LinK), Aan Anshori. Menurut Aan, substansi yang paling mendasar dalam penerapan undang-undang nomor tersebut adalah pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi. Selain itu adalah untuk menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum sehingga mereka bisa kembali ke lingkungan sosial secara wajar.

“Tentu manifestasi dari peradilan ini menjadi bermacam-macam. Misalnya memastikan tidak ada kekerasan ketika pada proses penyidikan, memastikan mereka juga mendapatkan hak-haknya sebagai anak. Jadi harus dibedakan antara orang dewasa dan anak terkait dengan proses atau kasus yang melibatkan Pondok Darul Ulum ini”, kata Aan Anshori, Kamis (03/03).

Seperti diberitakan sebelumnya, Abdullah Muzzaka Yahya, santri asal Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember diketahui tewas setelah dianiaya 13 santri lain di dalam lingkungan Pesantren Darul Ulum, tempat mereka mondok, Sabtu (28/02) malam. Muzzaka meninggal saat dalam perawatan di Rumah Sakit Airlangga Jombang dengan tubuh penuh luka lebam.

Dari hasil penyelidikan, diketahui motif penganiayaan dilatar belakangi dendam lantaran salah satu tersangka sempat dipalak oleh korban. Hasil otopsi menyebutkan, pelajar SMP Unggulan Darul Ulum tersebut mengalami penggumpalan darah di sejumlah organ tubuhnya akibat dipukul dengan menggunakan beberapa benda keras diantaranya ikat pinggang, raket nyamuk dan barbel.(Tari/Jati)

Keterangan gambar; Ilustrasi pengeroyokan.