Kekeringan Landa Warga Bantaran Sungai Gandong Bojonegoro

516

bjn
@dakitanews Pantura
– Dampak musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Bojonegoro belakangan ini terus dirasakan oleh warga, yaitu kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Bukan hanya itu, air yang mengalir di Bengawan Solo pun perlahan menyusut. Termasuk anak sungai di berbagai tempat, salah satunya Sungai Kaligandong di Kecamatan Gayam.

Ketika @dakitanews.com mendatangi Sungai Kaligandong yang berada di perbatasan Kecamatan Gayam dan Purwosari, Selasa (4/11), airnya mulai mengering. Sungai yang memiliki panjang 8,88 kilometer itu kondisinya kering kerontang, memang ada sedikit genangan air, namun tampak keruh berwarna hijau.

Di sisi bantaran sungai yang terletak di bawah perlintasan rel kereta api ganda (double track) Bojonegoro-Tobo juga jelas terlihat banyak sampah yang dibungkus plastik besar menumpuk, baunya pun menyengat.

Padahal, selama ini Sungai Kaligandong berfungsi menyuplai kebutuhan air warga yang dilintasi alirannya, mulai Desa Ngraho, Beged, Mojodelik, dan Bonorejo Kecamatan Gayam, Desa Purwosari dan Pojok Kecamatan Purwosari, dan sekitarnya hingga tembus ke Waduk Desa Ngambon, Kecamatan Ngambon.

Saat musim penghujan tiba, sungai tersebut mengalir begitu deras, bahkan sering menimbulkan banjir bandang. Sebagian besar warga sekitar memanfaatkanya untuk pengairan sawah. Tetapi, jika sudah memasuki musim kemarau seperti saat ini, hampir menyeluruh sepanjang aliran sungai tersebut mengering, dasaran sungai juga hanya tinggal pasir. Pepohonan yang rimbun di sekitar aliran sungai juga tampak layu akibat panasnya cuaca.

Menurut Kartijah ,65, warga sekitar Bantaran Sungai Kaligandong, setiap musim kemarau datang, Sungai Kaligandong menjadi langganan kekeringan. Intensitas air perlahan mengering meresap dalam tanah. Tak tangung-tanggung, menyusutnya kadar air di aliran sungai tersebut juga berpengaruh pada sumur bor yang berada di dekat pekarangan rumah milik warga setempat.

“Iya, saat air di Sungai Kaligandong mengering, air yang berada di sumur bor milik saya juga ikut-ikutan mengering,” ujarnya lirih.

Kartijah menuturkan, sumur bor miliknya yang mempunyai kedalaman 9,5 meter mulai tersendat airnya. Namun, meski tersendat masih cukup digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci dan mandi. Ia khawatir jika hujan tidak segera turun, air di sumurnya akan mengering, biasanya jika sudah sulit air, warga memenuhi kebutuhan air dengan cara membeli.

“Kalau untuk minum dan memasak ya beli air isi ulang harga Rp4.000/galon, karena air sumur sedikit keruh dan tidak layak minum,” jelasnya.

Hal yang sama juga dialami warga lain yang berada di pinggir Sungai Kaligandong, Dono ,74, ia sudah berpuluh-puluh tahun hidup di pinggir Sungai Kaligandong, sehingga tahu persis kondisi sungai tersebut saat musim kemarau atau penghujan. Mbah Dono sapaan akrabnya mengaku, sejak bulan Juni yang lalu intensitas air di Sungai Kaligandong menyusut. Keberadaan sungai yang berdekatan dengan rumahnya itu hanya tinggal pasir saja.

“Kemarau tahun ini lebih parah dari tahun kemarin, air yang mengalir di Sungai Kaligandong lebih cepat mengering,” tandasnya.(SR/Jati)