width=

Kediri(adakitanews.com) — Lebih dari setengah tahun terakhir, segala aktivitas masyarakat tidak seperti biasanya. Mereka harus mempertimbangkan banyak hal jika ingin beraktivitas dan harus menerapkan protokol kesehatan. Aturan Pemerintah pun akhirnya tidak memperbolehkan aktivitas masyarakat yang melibatkan banyak orang untuk menghindari penyebaran virus corona atau Covid-19.

Akibat Covid-19 ini, seluruh kegiatan terhambat dan yang paling merasakan dampak adalah bagi mereka yang berkecimpung di dunia seni. Para pelaku seni seakan ‘mati suri’, mereka hampir tidak mempunyai wadah untuk memamerkan hasil karyanya, entah itu seni musik, tari, maupun rupa. Sama halnya dengan pelaku seni asal Kelurahan Ngampel Kecamatan Mojoroto Kota Kediri, Agung Purwanto.

Dia salah satu seniman lukis di Kota Tahu ini dan sering memanfaatkan panggung hiburan maupun kegiatan pentas seni untuk memasarkan hasil karyanya, ataupun sekadar menarik minat para penonton untuk menggunakan jasanya. Kini, Agung lebih mengandalkan media sosial, tidak hanya sebagai wadah untuk memperkenalkan diri tapi juga mencari sasaran orang yang ingin menggunakan jasanya.

Pria kelahiran tahun 1969 ini menilai, jika hanya berdiam diri menunggu pandemi berakhir, maka tidak ada perubahan dan justru semakin terpuruk. Karena, para pelaku seni memang memerlukan wadah untuk memperkenalkan hasil karyanya sehingga masyarakat dapat mengetahui walaupun hanya sekadar melirik saja.

“Kalau dibilang ‘mati suri’ sih mungkin, karena hampir semua pementasan, perlombaan, dan event lainnya tidak boleh dilakukan sementara waktu ini. Saya secara tidak langsung juga menjadikan kegiatan itu untuk mencari pangsa pasar, karena tidak dipungkiri seniman memerlukan pendapatan dari hasil karyanya,” katanya, Sabtu (26/12/2020).

Bapak tiga anak ini menjelaskan, jika seorang seniman tidak bisa membaca situasi dan hanya bergantung pada event-event tertentu, maka tidak akan berkembang. Semua perlu tantangan dan harus ke luar dari zona nyaman. Selama pandemi, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari apa yang harus dikembangkan dari dirinya.

Agung pun mulai meraba apa yang ada di sekitarnya, mulai dari lingkungan rumah hingga pasar. “Jangan remehkan pasar, di sana ada para penjual yang mempunyai semangat sangat besar. Mereka bangun pagi buta dan menjajakan dagangannya, jadi saya juga berpikir demikian. Saya harus terus berusaha dan mengembangkan kemampuan saya,” ujarnya.

Jika biasanya Agung lebih banyak menggambar di kertas atau kanvas, dia mulai mencoba memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Mulai dari papan kayu hingga kaca, barang-barang lainnya dijajal dan dijadikan media lukis. Sebelumnya, mulai November 2017, dia hanya menggambar sketsa wajah menggunakan pensil, namun sekarang mulai berubah. Menurutnya, mencoba hal baru mempunyai tantangan tersendiri.

Tantangan itu lah yang menjadi cambuk bagi Agung supaya terus berkarya serta mengembangkan bakat melukis. “Kalau orang punya bakat tapi tidak mau berusaha, dia akan tetap di titik itu saja, hanya sekadar bisa. Tapi, kalau mempunyai cambuk untuk menekan diri supaya terus berkembang dan belajar, dia akan menemukan tempatnya,” tuturnya.

Karena, kata Agung, hampir setiap orang bisa menggambar dan di Kota Kediri mempunyai ribuan seniman lukis. Jika tidak bisa menemukan apa yang menjadi ciri khas, maka tidak akan dikenal maupun mempunyai tempat. “Mulai dulu dari coba-coba, nanti pasti ketemu feelnya. Kalau sudah, manfaatkan apa yang ada, dan jangan lupa bahwa media sosial mempunyai manfaat yang besar,” imbuhnya.

Menurut pria yang mempunyai nama panggung Artgung_rainbow ini, cara untuk tetap bertahan di tengah pandemi tidak hanya terus menempa diri, tapi juga harus pandai-pandai memanfaatkan media sosial. Diapun mengistilahkan promosi di media sosial (medsos) dengan istilah ‘ngamen’. Pasalnya, dia selalu mencoba memperkenalkan diri kepada pengguna medsos dan menunjukkan hasil karyanya.

“Iseng-iseng aja, saya coba kirim Direct Message (DM) atau Private Message (PM), coba perkenalkan diri dan kirim beberapa lukisan. Alhamdulillah, dari situ saya mulai ada pesanan, ada yang di kertas, kanvas, dan beberapa di media kaca. Memang tidak seramai sebelumnya, karena ada pandemi ini. Toh, siapa yang menyangka ada pandemi seperti ini, yang penting ambil hikmahnya dan terus mencari peluang,” kata Agung.

Bahkan, Agung juga sempat menerima DM yang isinya diminta untuk menggambar buah kelapa untuk acara ‘Mitoni’ atau acara tujuh bulanan usia kehamilan yang menjadi tradisi masyarakat Jawa. Acara mitoni atau tingkeban, yaitu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada ibu hamil yang kandungannya mencapai usia tujuh bulan.

Dia pun merasa bingung dan sempat ingin menolak. “Tapi lagi-lagi saya berpikir, selama ada kesempatan, mengapa tidak saya coba. Ternyata cukup sulit, karena niatnya dibuat sketsa dulu menggunakan pensil, ternyata langsung membekas dan akhirnya ‘kalah cacak menang cacak’ kalau orang Jawa bilang. Alhamdulillah, berhasil,” ujarnya.

Pria berusia 51 tahun ini mengatakan, tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang terus berusaha dan mencoba. “Kuncinya itu yakin, kalau ada tantangan itu yakin aja dulu. Kalau tidak dicoba, apa mungkin bisa tahu hasilnya? Dan jangan lupa, antara percaya diri dan sombong itu beda tipis, diusahakan tidak menyombongkan diri, karena semua Allah yang mengatur,” imbuhnya. (Oky).