ADAKITANEWS, Kediri – Kerusakan hutan di Jawa Timur didominasi banyaknya pencurian kayu (illegal logging) atau bisa disebut perambahan hutan. Kepala Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Andi Purwadi bahkan mengatakan, kerugian akibat aksi tersebut mencapai Rp 12 miliar pada tahun 2016.

Andi Purwadi menuturkan, akibat besarnya kerugian itu pihak Perhutani sudah menyiapkan beberapa program untuk mengatasi hal tersebut.
Ditemui beberapa awak media pada acara CSR PT Gudang Garam Tbk, Kamis (09/02), Andi mengaku aksi perambahan hutan memang banyak terjadi di daerah perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Untuk mengatasinya, Perhutani menggunakan cara memperlebar jarak tanam serta dengan membuat pola lubang-lubang di setiap tanaman. “Harapan kami dengan cara tersebut, menjadi jalan keluar ketika masyarakat itu mengalami kekurangan lahan,” ujarnya.

Angka Rp 12 miliar itu kata Andi, merupakan jumlah kerugian atas banyaknya perambahan hutan di keseluruhan Jatim. Pelakunya bervariatif, ada beberapa warga biasa, oknum, penadah, dan pemodal besar.

Untuk mengantisipasi kerusakan hutan, terkait adanya pencurian kayu liar yang di-backing oleh pemodal, pihak perhutani juga membuat program untuk masyarakat yaitu Warung Kayu. Yakni program menjual kayu dengan harga lebih rendah daripada harga pasar. “Sehingga warga pengrajin kayu dapat memanfaatkan program yang telah disiapkan tersebut tanpa harus mencuri,” cakapnya.

Untuk wilayah Jatim, perambahan terparah berada di Kabupaten Lumajang. Sementara untuk Kediri saat ini masih bagus kondisinya, baik hutan produksi maupu hutan lindung, lantaran pengawasannya yang sudah cukup baik sehingga sangat sedikit terjadi kerusakan hutan. “Tetapi ada beberapa hutan lindung yang agak terbuka, untuk itu akan kita programkan rehabilitasi hutan lindung,” pungkasnya.(kdr4)

Keterangan gambar : Ilusrasi.(google.com)