Kediri(adakitanews.com)—Wabah Covid-19 yang terjadi saat ini bukanlah pandemi pertama yang terjadi di Kediri. Peristiwa serupa pernah menerpa di Kediri pada awal abad ke-20 yaitu wabah Pes (Black death).

Wabah ini juga menjangkit di seluruh wilayah Hindia Belanda pada kala itu. Bahkan sejarah mencatat wabah ini mengakibatkan 60 persen warga Eropa meninggal.

Penelitian tentang wabah pes yang terjadi di Kediri pernah diteliti oleh Siti Nur’anania. Mahasiswa jurusan ilmu sejarah di salah satu universitas negeri di Surabaya itu menyebutkan “wabah pes di wilayah Kediri pertama kali terjadi pada bulan April 1911” tulis Siti dalam jurnal penelitiannya.

Penyebabnya adalah kutu tikus yang terinfeksi oleh bakteri pes dan menyebar ke pemukiman-pemukiman warga pribumi. Pemukiman pribumi pada masa itu kebanyakan masih berdinding bilik bambu serta lantai tanah yang membuat tikus cepat berkembang biak. Ditambah kurangnya kesadaran akan hidup higenis saat itu.

“Pada kurun waktu 1913-1914 penyakit pes menjadi wabah penyakit yang jumlah korbannya sangat tinggi terutama kalangan masyarakat pribumi karena tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan” tulis mahasiswa ilmu sejarah, Siti Nur’anania dikutip Selasa (9/6/2020).

Selain itu, beberapa pengamat sejarah mengungkapkan bahwa masyarakat pribumi pada jaman penjajahan masih mengandalkan dukun pengobatan alternatif jika mengalami sakit.

Keadaan itu membuat pemerintah kolonial Belanda serius menanganinya lantaran ada pengalaman pahit wabah pes di Eropa. Dalam Jurnalnya, Siti mengungkapkan bahwa pemerintah kolonial Belanda salah satunya bentuk pencegahan penyebaran wabah pes di Kediri adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan anggaran dan pelayanan di bidang kesehatan seperti fasilitas rumah sakit, pelayanan kesehatan, pembangunan klinik.

“Namun kebijakan ini baru terealisasi memasuki tahun 1920-an melalui nasehat para dokter yang bertugas di kota Kediri saat itu” tambah Siti.

Klinik Mitra Waluyo yang berada di kecamatan Pare bisa dibilang merupakan saksi bisu wabah pes di Kediri. Joharsono (70), salah satu pengurus GKJW Sidorejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, mengungkapkan bahwa pembangunan Klinik dan Sekolahan merupakan wujud pengabdian dari umat.

“Klinik itu dibangun karena dulu ada penyakit yang mewabah warga di daerah sini” kata pengurus GKJW Sidorejo itu.

“Klinik itu juga menjadi satu satunya fasilitas kesehatan yang melayani wilayah sekitar desa Sidorejo pada saat itu” tambah Pak Pur, panggilan akrabnya.

Dari arsip pak Pur menjelaskan bahwa Klinik mulai dibangun pada tahun 1912 atas inisiatif pihak Gereja saat itu. Klinik tersebut akhirnya selesai dibangun pada 8 Maret 1918. Hal itu sesuai dengan keterangan yang ada di fasad depan yang menunjukan ANO 8 – 3 – 1918.

Dampak kebijakan-kebijakan kesehatan yang mulai memberi perluasan akses kepada masyarakat pribumi untuk memperoleh pelayanan kesehatan selain itu mengintensifkan kegiatannya dalam bidang kesehatan umum dan higienitas untuk memberantas penyakit pes.

Mengingat pada wabah covid-19 yang sekarang melanda Kediri. Kita sepatutnya juga memberikan perhatian lebih pada sektor kesehatan dengan menaati protokol kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah. Agar wabah covid-19 ini cepat diberantas.(rif).