Komitmen UN PGRI, Kembali Berikan Pendidikan yang Berkualitas

20160525_140624ADAKITANEWS, Kota Kediri – Setelah diaktifkan kembali oleh Dirjen Dikti, kampus terbesar di Kediri, Universitas Nusantara (UN) PGRI terus berbenah. Hal ini tampak dari seluruh manajemen kampus yang tiada henti melakukan evaluasi demi memberikan pendidikan yang berkualitas untuk Bangsa Indonesia yang berdaulat.

Awal tahun 2015, UN PGRI Kediri menjadi satu diantara puluhan Perguruan Tinggi yang dinonaktifkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti). Namun, mereka tidak ingin berlama-lama menderita “penyakit” tersebut. Terbukti belum genap 6 bulan, UN PGRI Kediri bahkan sudah menjadi kampus percontohan di Indonesia yang manajemennya berkomitmen menyembuhkan “penyakit” itu.

Ya, tepat 9 Nopember di tahun yang sama, UN PGRI Kediri sudah mendapatkan surat aktif kembali dari Dirjen Dikti. Artinya, “penyakit” yang diderita sudah berangsur sembuh.

Berbagai upaya dilakukan baik Rektorat maupun Yayasan UN PGRI Kediri. Salah satunya dengan memberikan beasiswa melanjutkan pendidikan Strata-3 (S3) bagi puluhan dosennya. Tahun ini saja, menurut Dr Yuli Sulaksono, Ketua Yayasan UN PGRI sudah ada 25 dosen yang tinggal menunggu ujian Disertasi.

“Target kita dalam kurun waktu 4 tahun ke depan, 70 dosen sudah Doktor (Titel lulus S3,red). Sesuai dengan prinsip pendidikan, kita bisa memberikan pendidikan yang bermutu jika tenaga pengajarnya memiliki kualitas yang mumpuni,” ujar Dr Yuli, saat memaparkan kondisi UN PGRI Kediri kepada jajaran Pimpinan PWI Perwakilan Kediri, Rabu (25/05).

Bukan hanya kualitas tenaga pengajar, UN PGRI juga tidak ingin main-main memberikan pendidikan kepada mahasiswanya. Terobosanpun dibuat demi memberikan output yang sesuai dengan kebutuhan tantangan dunia global saat ini, salah satunya dengan memberikan sertifikat kompetensi kepada mahasiswanya.

“Kita juga memberikan pendidikan kompetensi sesuai dengan Prodi. Ini demi menjawab tantangan global. Kita tidak ingin produk mahasiswa dari UN PGRI ini menambah derita masyarakat. Kita ingin mereka justru membantu terutama dengan keahlian tersebut. Mereka (mahasiswa,red) mampu membuka usaha sendiri. Kalaupun nantinya bekerja untuk orang lain, mereka sudah memiliki keahlian,” tambah Dr Yuli Sulaksono.

UN PGRI Kediri yang menjadi perguruan tinggi percontohan, kini hanya menerima mahasiswa tahun ajaran 2016/2017 maksimal 2.000 mahasiswa. Hal ini agar tidak terjadi seperti pada tahun-tahun kemarin dan sesuai dengan pagu yang ditentukan oleh Dirjen Dikti.

“Setelah kami sudah aktif kembali, kita tidak ingin bermain-main dalam memberikan pendidikan. Kita ingin Lembaga Pendidikan yang berkualiatas, menghasilkan produk mahasiswa yang berkualitas sesuai dengan moto kita Inspiring University,” tutup Dr Yuli Sulaksono.

Sementara, Mega Wulandari, Ketua PWI Perwakilan Kediri menyampaikan kerjasama antar lembaga UN PGRI merupakan komitmen bersama untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas di Kota Kediri dan sekitarnya. Hal itu merupakan tanggung jawab media memberikan pendidikan kepada publik.

“UN PGRI itu salah satu aset pendidikan bagi masyarakat. Baik secara ekonomi maupun untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Maka jalinan kerjasama ini kita harapkan akan dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” jelasnya.(*/Zay)

Keterangan Gambar : Ketua PWI Kediri memberikan piagam penghargaan kepada UN PGRI Kediri sebagai Perguruan Tinggi yang berkomitmen pada pendidikan di Kediri.(Foto: Zayyin)

Recommended For You