Komunitas ABK Sidorejo, Getol Perjuangkan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Kediri(adakitanews.com)—Perjuangan guru dalam mendidik murid-muridnya seolah tak akan pernah putus. Begitulah yang dilakoni salah satu komunitas anak berkebutuhan khusus (ABK) Sidorejo di Desa Sidorejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.

Sejak berdiri pada tahun 2014 silam, komunitas ini getol untuk mendidik berbagai anak berkebutuhan khusus di wilayah Kabupaten Kediri.

Rinda Natalia, pendiri sekaligus guru pada komunitas ini menjelaskan mulanya komunitas ini berdiri diinisiasi karena keperdulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus untuk merasakan pendidikan yang sama dan layak di wilayah Sidorejo.

Dengan menggandeng salah satu relawan guru, dan bangunan rumah satu petak kecil ia mulai mendirikan kelas untuk belajar baca tulis.

“Ini tanah wakaf jadi kita numpang gunakan sebagai kelas. Dari dulu banyak anaknya yang mau ke sini tapi terus gonta ganti. Soalnya di sini kita cuma tempat bimbingan belajar dan terapi ringan saja,” ucapnya, Sabtu (23/7/2022).

Dengan tanpa di pungut biaya sepeserpun, Rinda bersama komunitasnya mengaku senang bisa melihat peserta didiknya tumbuh dan berkembang. Saat ini sekitar 20 an anak rutin dari pagi hingga siang hari belajar di ABK Sidorejo.

“Pesertanya kebanyakan jauh-jauh, ada dari Kecamatan Wates bahkan dari Kecamatan, Pesantren Kota dan Burengan,” paparnya.

Keluarga dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang Komunitas ABK ampu umumnya tak tahu harus menyekolahkan anak-anak mereka. Kebanyakan anak yang datang juga dari informasi keluarga yang telah melihat perkembangan anaknya.

“Banyak yang datang dari informasi mulut ke mulut karena melihat anaknya dari belum bisa membaca dan bicara akhirnya bisa, dari situ mulai berdatangan,” ucapnya.

Pembelajaran yang diberikan dari komunitas ini sendiri dalam bentuk motorik halus. Dimana para guru akan melihat kondisi anak didiknya sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Meski dengan alat dan fasilitas seadanya, Rinda dan satu guru lainnya memanfaatkan dengan maksimal.

“Sebetulnya kita juga butuh alat seperti puzzel, kayu balok untuk mengetahui bangunan pada anak didik. Kalau terapi itu bisa sama meja kursi. Sedangkan kalau fisik itu pijet dari guru kita ada,” ungkap Rinda.

Bertepatan dengan momen Hari Anak Nasional tahun ini, Rinda bersama Komunitas ABK Sidorejo Pare berharap banyak pihak yang lebih peduli dengan kondisi anak berkebutuhan khusus di sekitarnya.

Tak hanya itu, ia juga bermimpi bisa membangun tempat sendiri untuk anak didiknya. Dengan demikian, mereka bisa leluasa belajar dengan maksimal untuk kedepan anak tersebut bisa membantu, bekerja dan mendapat penghasilan yang layak.

“Karena selama ini masih numpang, sudah buat proposal ke sana sini tapi belum ada yang respon,” tutupnya.

Salah satu orang tua ABK, Sukesih mengucapkan rasa terima kasih kepada Komunitas ABK Sidorejo Pare. Selama kurang lebih 7 tahun anaknya belajar di sini, ia mengaku telah melihat perkembangan yang signifikan.

Seperti bisa membaca, tulis, tidak uring-uringan bahkan bisa mandiri dengan cara bekerja sebagai pengupas kulit bawang.

“Semoga komunitas ini bisa lebih maju lagi dan anak-anaknya tak bergantung kepada orang lain bisa mandiri,” ungkapnya.(Gar).

Recommended For You