ADAKITANEWS, Tulungagung – Sejak dulu Tulungagung tak hanya dikenal sebagai kota penghasil marmer, namun juga terkenal kota cethe (ampas kopi,red). Hal itu lantaran kota yang terletak sekitar 250 kilometer dari Surabaya ini, merupakan tempat asyik untuk menikmati secangkir kopi sekaligus nyethe (melukis rokok dengan ampas kopi, red). Tak heran, banyak dijumpai warung kopi di kabupaten berjuluk Kota Retjoe Pentoeng ini.

=========

Udara malam yang dingin begitu terasa saat memasuki Kota Tulungagung ini. Berbekal rasa penasaran, Tim Adakitanews.com langsung menuju Pasar Ngemplak, Tulungagung, Sabtu (08/07). Kawasan yang pada siang hari digunakan sebagai pasar buah ini sangat berbeda ketika malam hari. Banyak warung kopi yang menawarkan jasa ekstra yang menjadi kegemaran kaum laki-laki. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 19.00 WIB, namun keramaian pengunjung sudah terlihat ramai.

Kopi yang banyak disediakan di warung kopi kota ini begitu khas. Salah satunya yang banyak disebut masyarakat setempat sebagai kopi ijo (kopi hijau, red). Kopi hijau yang dimaksud bukan nama varietas kopi layaknya arabika atau robusta. Kopi hijau yang dimaksud adalah campuran antara bubuk kopi, butiran gula, dan sedikit campuran kacang hijau yang telah dihaluskan. Saking banyaknya warung kopi di kota ini, membuat persaingan semakin ketat, sehingga banyak pemilik warung kopi yang mengubah strategi pemasaran dengan menyediakan pramusaji yang bisa dibilang masih “ijo-ijo”.

Tim Adakitanews.com kemudian mencoba memesan secangkir kopi. Tak lama kemudian seorang gadis berwajah manis datang sembari menyuguhkan kopi yang sudah dipesan. “Monggo mas (silakan mas),” sapa gadis berkulit sawo matang ini.

Namun selama satu jam duduk di warung tersebut, tak satupun pramusaji yang mendekati. Mungkin karena Tim Adakitanews.com baru pertama kali datang ke warung tersebut, dan saat itu pengunjung warung tersebut sudah ramai.

Gaung Warung Kopi Tulungagung saat ini memang begitu santer terdengar di luar daerah. Hal itu lebih karena warung kopi di Tulungagung menawarkan pelayanan ekstra para pramusaji. Ada banyak warung kopi di Tulungagung yang menyajikan pelayan yang cantik-cantik, dan uniknya lagi pengunjung diperbolehkan pegang, colek, dan sejenisnya, tanpa harus bayar ekstra. Hanya saja, harga kopi di warung seperti ini sedikit mahal ketimbang warung biasanya. Yakni sekitar Rp 3.000 – Rp 4.000 untuk setiap cangkirnya.

Para penikmat kopi Tulungagung pun mempunyai sebutan khusus buat warung kopi dengan pelayan – pelayan bertubuh aduhai serta servis ekstra ini. Pengunjung biasa menyebut warung kopi pangku atau warung kopi ngosek.

Hampir setiap desa di Tulungagung mempunyai warung seperti ini, meski sekarang jumlahnya tak sebanyak yang dulu. Para pengusaha warung kopi ini, bersaing demi mendapatkan pelanggannya. Selain menyediakan fasilitas ruang karaoke, pengusaha warung kopi ini juga menyediakan pramusaji yang cantik dan masih muda.

Tim Adakitanews.com kemudian memutuskan untuk bergeser ke Kecamatan Sumbergempol hingga akhirnya ke sebuah warung kopi di Desa Mirigambar. Meski letaknya di pinggiran Kota Tulungagung namun warung kopi ini ramai pengunjungnya.

Pesen nopo mas, dugi pundi niki wau? (pesen apa mas, dari mana ini tadi?),” ujar seorang pelayan sembari menawari menu.

Setelah membawakan secangkir kopi, gadis 17 tahun yang mengaku bernama Yuli ini ikut menemani duduk Tim Adakitanews.com. Ia mengaku berasal dari Blitar dan baru dua tahun bekerja di warung ini. Gadis berparas manis ini mengatakan orang tuanya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya.

Pramusaji ini tidak hanya sekedar menyuguhkan cangkir-cangkir kopi yang sudah terisi, namun juga mampu melayani pengunjung layaknya seorang purel di klub malam. Karenanya, setiap gadis yang rata-rata berasal dari keluarga tidak mampu dan putus sekolah ini diwajibkan bersolek lazimnya perempuan dewasa.

Mereka juga diminta mampu merayu dan menyenangkan tamu. Selain secara ekonomi mendatangkan keuntungan berlebih bagi kedai, para pramusaji belia tersebut juga memperoleh tip dari tamu.

Benar saja, tak lama kemudian, Yuli menawarkan untuk karaoke. Tarifnya begitu murah hanya Rp 1.000 per lagu. Memang tarif untuk karaoke ini berbeda-beda, namun hanya berkisar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per lagu.

Pertanyaan nakal pun sempat Tim Adakitanews.com lontarkan terkait bagaimana cara jika seseorang bisa membooking para pelayan ini. “Bisa mas, biasanya kalau setelah warung ini tutup. Tapi kalau baru kenal atau baru datang kesini ya gak bisa. Rata-rata langganan yang datang kemari,” jelasnya.

Menurut Yuli biasanya pelanggan mengajak ke hotel. Dan tarifnya sekitar Rp 300.000. “Kalau baru kenal kita takut,” pungkasnya.(pur)

Keterangan gambar : Suasana warkop pangku Tulungagung.(foto : mus purmadani)

https://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/07/warkop-Tulungagung-1.jpghttps://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/07/warkop-Tulungagung-1-150x150.jpgREDAKSIGaya Hidupadakitanews,Berita,kopi pangku,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung - Sejak dulu Tulungagung tak hanya dikenal sebagai kota penghasil marmer, namun juga terkenal kota cethe (ampas kopi,red). Hal itu lantaran kota yang terletak sekitar 250 kilometer dari Surabaya ini, merupakan tempat asyik untuk menikmati secangkir kopi sekaligus nyethe (melukis rokok dengan ampas kopi, red). Tak heran, banyak...