ADAKITANEWSRokok, Madiun – Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPP-BC) Madiun tahun ini menutup dua pabrik rokok golongan III atau Sigaret Kretek Tangan (SKT). Hal ini berakibat pada kontribusi cukai rokok mengalami penurunan 2% atau sekitar Rp 8 milyar dari Rp 400 milyar.

“Penutupan Pabrik Rokok (PR) itu ada di Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo atas keinginan bersangkutan, sebab tidak berproduksi selama 8 bulan. Sementara itu, untuk penutupan perusahaan rokok di Kabupaten Magetan, karena keberadaannya beralih fungsi,” jelas Kepala Sub Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Kantor Bea Cukai Pratama Madiun, Yugianto, Senin (20/4).

Penutupan perusahaan rokok tersebut atas keinginan pemilik perusahaan karena akan dialih fungsikan untuk jenia usaha lain. “Jadi memang sampai saat ini sudah ada dua kegiatan pencabutan ijin perusahaan rokok,” tandasnya.

Dua perusahaan rokok  sudah tidak berproduksi lagi dengan alasan biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima. Jumlah pabrik rokok dibawah pengawasan kantor Bea Cukai Madiun cenderung turun. Hal itu merupakan dampak kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/2010 tentang Syarat Luas Bangunan Perusahaan Rokok, setidaknya 200 meter persegi.

“Sesuai aturan, perusahaan rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan I (besar) batasan produksi 2 milyar batang ke atas tiap tahun, golongan II (menengah) 500 juta sampai 1 milyar batang dan golongan III (kecil) 0-500 juta batang per tahun. Saat ini masih ada 17 Perusahaan Rokok aktif di eks Karesidenan Madiun,” pungkasnya. (UK)

Keterangan Gambar : Seorang petugas Bea dan Cukai Madiun tengah mengamati rokok tanpa pita cukai hasil operasi. Kini pendapatan cukai rokok mengalami penurunan akibat 2 pabrik rokok (PR) tutup.