Kreasi Batu Hias, Karya Warga Sambikerep

1277

ADAKITANEWSIMG_20150530_154620IMG_20150530_154603, Nganjuk –  Kekayaan alam yang melimpah menjadi obyek manusia untuk memanfaatkannya. Salah satu kreasi ini dilakukan oleh Nyamat,42, warga Desa Sambikerep Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk untuk memanfaatkan batu alam menjadi batu hias yang sangat indah.

Desa Sambikerep merupakan perbatasan dari dua wilayah, yakni Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Bojonegoro. Desa ini seolah seperti daerah terpencil, karena terletak paling utara dan letaknya dikelilingi hutan lindung milik Perhutani.

Namun, perihal ini tidak membuat masyarakat desa Sambikerep menyerah dengan keadaan. Pemikiran-pemikiran kreatif pun akhirnya timbul. Salah satunya dengan memanfaatkan kekayaan alam yang selalu bersahabat dengan mereka.   Keadaan seperti dimanfaatkan oleh Nyamat untuk membuat batu alam menjadi batu hias taman (Swzeky).

Keterampilan mengolah batu alam tersebut didapatkan Nyamat dengan cara belajar tentang batu alam di Tanggerang Jawa Barat hingga bertahun-tahun. Bahkan, untuk memperluas pengetahuannya, dia juga belajar kepada ahli batu alam dari China dan Jepang. “Kurang lebih lima tahun saya belajar tentang batu disana (Tangerang-red), mungkin keberuntungan saya juga bisa bertemu dan belajar dengan mereka (Ahli batu dari China dan Jepang-red),” tutur Nyamat

Dalam mengolah batu alam itu sebenarnya sangat mudah. Peralatan yang dibutuhkanpun juga tidak begitu sulit dicari. Hanya dengan Scraft, amplas kasar, amplas halus, dan pembersih lantai saja. Nyamat mengaku, dalam pembuatannya juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari pengambilan batu alam hingga menjadi batu hias yang cantik hanya membutuhkan waktu sehari saja.“Dalam pengerjaannya saya dibantu empat orang, ya orang sekitar sini saja,” jelasnya

Lebih lanjut Nyamat mengatakan, kerumitan dalam kreasi batu hias itu yaitu untuk mengetahui jenis batunya. Bahkan, butuh puluhan tahun sebelum dia bisa membuat batu alam itu menjadi batu Swzeky yang membuat taman menjadi lebih indah. “Sebelumnya saya cari informasi dulu ke orang-orang, di daerahnya ada batu apa saja,” terangnya

Namun, hingga saat ini Nyamat masih kebingungan untuk memasarkan hasil karyanya. Pemerintah daerah juga belum memberikan wadah untuk karya warga Sambikerep yang bernilai seni tinggi tersebut untuk memasarkan hasil karyanya. Akibatnya, hasil yang didapatkan dari warga setempat tidak sebanding dengan karya yang mereka hasilkan. “Kami memasarkan kalau ada pameran batu alam di sekitar Nganjuk saja,” ujarnya

Agus Johannoko Kepala Desa (Kades) Sambikerep juga menyesalkan kurangnya apresiasi dari pemerintah pusat untuk kreasi batu hias tersebut. Agus Johannoko berharap ada perhatian khusus dari instansi terkait agar warganya tidak kebingungan dalam memasarkan hasil kreasi mereka.

“Kendala dari warga kami ini dari pemasarannya. Ketika barang-barang antik yang sudah jadi ini penyuplaian harga masih sangat murah, sehingga mereka kebingungan harus menjual kemana hasil karyanya,” ujar Agus Johannoko

Agus Johannoko sebagai Kepala Desa berjanji akan berusaha keras agar usaha-usaha kecil di daerahnya tidak mengalami kebangkrutan. Salah satu caranya dengan menyuplai dana kepada usaha kecil tersebut melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jatimakmur Desa Sambikerep berupa penambahan modal usaha produktif. Penambahan modal ini diharapkan akan membantu usaha kecil warga Sambikerep lebih maju.

“Ketika shering tebang nanti akan ada pembahasan terkait usaha produktif. Melalui itulah kami akan menyuplai dana kepada usaha-usaha kecil seperti pak Nyamat ini agar usahanya lebih maju lagi,” jelas Agus Johannoko.(zay).

Keterangan Gambar : Batu hias produk warga Sambikerep Nganjuk yang bernilai tinggi tapi terhalang pemasaran