ADAKITANEWSP_ pt ggIMG_20150329_151507, Kota Kediri – Buntut Kunjungan Kerja (Kunker) Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husein pada perusahaan rokok terbesar se-Asia, PT Gudang Garam (GG) Tbk, menuai kekecewaan banyak awak media. Pasalnya pengamanan ekstra ketat dari kemanan perusahaan membuat para awak media local tidak bisa meliput, terlebih ada upaya menghalang-halangi awak media saat sang menteri berada di kompleks persahaan raksasa itu.

“Sayangnya, pengamanan yang dilakukan oleh Pihak PT Gudang Garam berlebihan. Sehingga, temen-temen wartawan yang meliput moment baik itu tidak bisa maksimal. Bahkan ada sebagian wartawan dilarang meliput ” kata, seorang awak media lokal yang mewanti-wanti namanya tidak disebutkan dalam pemberitaan.

Menanggapi kekecewaan sejumlah awak media, Iwhan Tri Cahyono, wakil Humas PT.GG menyatakan, kunjungan Menperin ke PT. GG bukan merupakan agenda perusahaan. Sehingga pihaknya tidak memiliki kewenangan mengatur agenda menteri tersebut secara utuh.

“Kami mohon maaf pada teman-teman media, karena kami tidak memberikan kabar secara resmi kunjungan Menperin. Karena ini bukan agenda perusahaan, jadi kami tidak mengundang teman-teman,” jelasnya singkat.

Kunjungan Menperin, dilakukan untuk menyerap aspirasi dari kalangan industri rokok di tanah air. Sejauh ini, industri rokok banyak menyumbangkan cukai bagi negara.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husein menyatakan, pemerintah terus mendorong industri hasil tembakau (IHT) dengan tetap memperhatikan keseimbangan kesehatan, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan negara sebagaimana diatur dalam kebijakan industri nasional.

“Upaya pengembangan industri IHT sejalan dengan visi dan misi Nawa Cita Kabinet Kerja, dimana kedaulatan pangan akan diupayakan seluas-luasnya dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri melalui pengembangan industri berbasis agro,” kata di sela kunjungan kerja ke PT Gudang Garam, Kediri, akhir pekan lalu.

Ia juga mengatakan, saat ini pangsa pasar IHT didominasi sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 66,26 persen, sigaret kretek tangan (SKT) sebesar 26 persen, sigaret putih mesin (SPM) sebesar 6 persen, sisanya klobot, cerutu, klembak menyan, dan sigaret tangan filter sebesar 1,74 persen. “Dinamika industri IHT sangat pesat,” katanya.

Memang, katanya lebih lanjut, peraturan terkait rokok semakin ketat baik di dalam negeri maupun di luar negeri.“ Pertimbangan perlindungan konsumen dan kesehatan menjadi tantangan tersendiri bagi industri rokok.” Terangnya.

Selain itu, kenaikan cukai tiap tahunya juga menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan industri rokok. “Pemerintah terus berupaya untuk membuat kebijakan yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak,” tambahnya.

Menurut Saleh, industri rokok kretek sendiri telah menjadi bagian sejarah dan budaya “khas Indonesia” dan merupakan warisan nenek moyang yang sudah mengakar.

Ia juga berharap, ke depan perusahaan dapat terus berkembang dan menjaga citra merek serta mempertahankan poduksi kretek guna menyerap tenaga kerja terutama bagi masyarakat sekitar lingkungan pabrik.

Sekadar diketahui, produksi PT Gudang Garam Tbk mencapai 74,475 miliar batang dan penjualan luar negeri sebesar 4,08 miliar batang, serta menyerap tenaga kerja 43.000 orang.

Pantauan Adiktanews.com, usai mengunjunggi tempat-tempat produksi rokok di Gudangan Garam, Menprin, Saleh Husen beserta rombongan langsung bertolak ke Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur. (zay)