subdin P2KLADAKITANEWS Nganjuk – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten dianggap lamban bertindak mengantisipasi endemik Demam Berdarah (DB). Akibatnya, puluhan warga di wilayah endemik tersebut terjangkit DB serius.

Wilayah Kecamatan yang endemik DB, yakni Kecamatan Pace, Loceret, Nganjuk, dan Ngronggot. Bahkan jumlah penderita yang disebabkan nyamuk aides aigepty tersebut mencapai puluhan orang dalam satu lokasi. Yakni terjadi di Desa Plosorejo, Kecamatan Pace, beberapa orang menderita DB serius hingga dirawat di rumah sakit. Kendati diketahui telah terjadi penyebaran penyakit DB, belum tampak tindakan serius dari Dinkes Nganjuk.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinkes Nganjuk, Syaifullah justru mengelak telah terjadi penyebaran DB yang jumlahnya mencapai puluhan penderita.

Hingga memasuki awal tahun 2015 ini, baru ada tiga penderita yang terdeteksi positif DB, yakni berasal dari Desa Plosorejo. Data tersebut diketahui dari laporan resmi RSUD Nganjuk, per Sabtu 10 Januari 2015. Kendati demikian, pihaknya tidak segera melakukan pengasapan, justru masih menunggu hingga empat atau lima hari lagi.

“Karena kami harus mendapatkan laporan resmi dulu dari RSUD Nganjuk baru menjadwalkan fogging,” terang Syaifullah ditemui di Rumahnya, Sabtu, (10/01).

Menurut Syaifullah, Dinkes tidak dapat serta merta melakukan fogging berdasarkan permintaan warga. Pasalnya, untuk melakukan tindakan pengasapan harus didasarkan pada hasil analisa medis. Sebenarnya, lanjut Syaifullah, yang terpenting bukan pengasapan, melainkan pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, termasuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemberian abate. “Abate bisa didapat dari puskesmas terdekat tanpa harus membeli,” tegasnya.

Terkait fogging, di Nganjuk hanya tersedia dua armada dengan jumlah personel 19 orang. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pengasapan dirasa masih kurang. Untuk itu, Dinkes hanya memprioritaskan zona endemi, yang benar-benar dinyatakan positif banyak warga menderita DB. Untuk mengetahui sebagai zona, jelas Syaifullah tidak semua penderita demam dinyatakan sebagai penderita DB. Bisa jadi, mereka hanya demam biasa, demam dengue atau chikungunya.

“Tidak mesti, penderita yang sakit demam dinyatakan sebagai demam berdarah, harus dites laborat dulu bila demamnya bertahan sampai tiga hari tidak turun-turun,” ujarnya.

Data  yang dihimpun @dakitanews.com, di sejumlah wilayah Nganjuk diduga telah terjangkit DB. Salah satunya terjadi di Desa Plosorejo, Kecamatan Pace, puluhan warga mengalami demam tinggi hingga dilarikan ke rumah sakit. Mereka berada dalam satu lokasi yang berdekatan. Bahkan, tiga orang  langsung dinyatakan positif menderita DB oleh dokter. (Jati)

Keterngan Gambar : Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinkes Nganjuk, Syaifullah