images-2ADAKITANEWS, Kota Kediri – LPA Kota Kediri Jawa Timur mengecam rencana jumpa pers dan testimoni Komnas perlindungan anak yang melibatkan korban Soni Sandra (SS). LPA menilai kegiatan itu merupakan bentuk eksploitasi korban dan pelanggaran hak anak.

Ulul Hadi juru bicara (jubir) LPA Kota Kediri dalam perss realease nya, Jumat (23/09) menegaskan, seharusnya korban justru mendapatkan perlindungan dan hak memperoleh rasa aman bukannya dimanfaatkan untuk kepentingan publikasi. Bahkah dia menuding Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Anak memanfaatkan korban SS untuk mendapatkan popularitas dan simpati publik.

“Kalau ingin advokasi hukum dan memperjuangankan keadilan bagi korban SS mengapa harus mengajak korban jumpa pers dan testimoni, kan bisa langsung ke MA atau justru langsung ke Presiden. Ada kepentingan apa ini” Ujar Ulul Hadi.

Ulul Hadi menambahkan, eksploitasi korban SS sudah pernah dilakukan sejumlah LSM di Jakarta dengan mengelar jumpa pers dan talkshow di sebuah stasiun televisi swasta. Akibatnya justru meresahkan masyarakat khususnya di Kota Kediri mengingat dalam jumpa pers tersebut dipaparkan data jumlah korban SS mencapai sekitar 50 orang. Padahal kebenaran data itu juga tidak bisa dipastikan.

“Arist Merdeka Sirait harus membatalkan rencana jumpa pers dan testimoni  jika tetap melibatkan korban dan keluarga korban. Jangan sampai terulang lagi eksploitasi terhadap korban SS karena akibat dan dampak buruknya,” tambah Ulul Hadi.

LPA kata Ulul Hadi, sudah mengupayakan keadilan bagi korban SS dengan mendesak Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri untuk menempuh Kasasi atas putusan hakim banding PT Jatim yang tidak menghukum Soni Sandra meski dinyatakan bersalah. Atas desakan LPA dan pertimbangan hukum Kejaksaan Negeri Kediri sudah mengajukan Kasasi Ke MA.

“Kita tunggu saja putusan dari MA atas pengajuan Kasasi dari Pengadilan Kota maupun Kabupaten Kediri. Tidak  perlu memperkeruh suasana dengan menggelar jumpa pers dan testimoni  korban SS,” pungkas Ulul Hadi.(*/Zay)

 

Keterangan Gambar : Karikatur kekerasan pada anak.(google.com)