Meluruskan Sejarah Pancasila

eva kusuma sundariADAKITANEWS, Kediri – Keluarga besar Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) terus memperjuangkan pelusan sejarah dan menanamkan kembali  sejarah dan nilai Pancasila yang dianggap sudah melenceng hingga tercerabut dari akarnya. Aksi konkrit itu dimulai dari pembangkitan kembali nilai budaya lokal dan pemberdayaan para kader di tingkat daerah.

Eva Kusuma Sundari, Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi PA GMNI menjelaskan, menyimpangnya makna Pancasila sejak berkuasanya Orde Baru merupakan skenario politik untuk menghilangkan kekuatan kaum nasionalis hingga akarnya. Upaya pembengkokan sejarah tersebut dinilai sangat masif dan sistemik hingga seluruh lapisan masyarakat memiliki pemahaman keliru terhadap Pancasila berikut sejarahnya.

“Selama Orde Baru, pembengkokan pendidikan pada posisi Pancasila sangat dahsyat sekali. Pembengkokan yang sama juga dilakukan khususnya yang berkait sejarah Pancasila dan ini perlu harus segera diluruskan,” ujar Eva usai menghadiri pertemuan aktivis PA GMNI Kediri Raya.

Lebih lanjut Eva menyatakan, pembengkokan sejarah oleh Orde Baru sangat melukai kaum nasionalis, khususnya GMNI sebagai salah satu organisasi pengikut faham Soekarno (Soekarnoisme-red).  “Bagaimana tidak melukai, jika kemudian terjadi pembelokan sejarah sedemikian itu, seperti dalam buku putih yang disusun Profesor Nugroho Noto Susanto yang menyatakan pencetus Pancasila pertama kali adalah Muhamad Yamin, bukan Soekarno. Yang lebih menyakitkan adalah pemahaman bahwa Marhaenisme itu sama dengan dengan komunisme,” jelas salah satu anggota Komisi XI DPR RI ini.

Ditetapkannya Keputusan Presiden (Keppres) 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, merupakan tonggak baru pelurusan sejarah Pancasila. “Kan jadi aneh adanya hari kesaktian tanpa adanya hari kelahiran,” ujarnya.

Secara konkrit kata Eva, PA GMNI terus melakukan penumbuhan kembali sejarah budaya lokal yang merupakan sumber kekuatan gerakan  nasionalisme. “Kita akan melakukan pelatihan penulisan sejarah lokal, karena cara berfikir Bung Karno itukan dialektik, realistik dan revolosioner. Dialektika yang Bung Karno ajarkan juga dengan mencintai sejarah kita sehingga pola gerakan yang dilakukan tidak terputus dengan masa lalu,” pungkasnya. (ys)

Keterangan Gambar : Ilustrasi Eva Kusuma Sundari 

Recommended For You