ADAKITANEWS, Sidoarjo – Kabupaten Sidoarjo dulunya sebenarnya bernama Kadipaten Terung di bawah Kerajaan Majapahit. Adipatinya, bernama Raden Husen yang beragama Islam. Dan kini, sisa-sisa peninggalannya pun masih ada, meski banjir lahar Gunung Penanggungan telah menghancurkannya.

=========

Krian merupakan salah satu wilayah daerah bekas kekuasaan Majapahit. Di wilayah barat Sidoarjo ini dulunya terdapat Kadipaten Terung, yang kini tepatnya berada di Desa Terung, Kecamatan Krian.

Kini Desa Terung sendiri terbagi menjadi dua desa yakni Desa Terung Wetan dan Desa Terung Kulon. Jika di Terung Wetan terdapat makam Putri Ayu Oncat Tondo Wurung yang merupakan putri dari Raden Husen, di Desa Terung Kulon terdapat makam ayahnya yakni Raden Kusen, adik dari Sultan Fatah dari Kerajaan Demak Bintoro.

Raden Husen diketahui pernah memimpin Kadipaten Terung pada masa Prabu Brawijaya V, ayah kandung Raden Patah. Kadipaten Terung sendiri diperkirakan musnah setelah terkena aliran lahar dingin letusan Gunung Penanggungan beberapa abad yang lalu, bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit yang pindah ke Kediri di bawah pemerintahan Girindawardhana.

Bukti-bukti bahwa di Krian Sidoarjo merupakan bekas Kadipaten Terung adalah ditemukannya makam Raden Husen yang masih terpelihara keasliannya. Selain itu juga ditemukan bekas bangunan candi berbentuk huruf L yang terbuat dari batu bata.

Tidak sulit untuk menemukan makam Raden Husen. Letaknya berada di belakang Masjid Baiturrohim, Desa Terung Kulon, dan makamnya terbuat dari batu bata bersusun.

Keaslian makam itu hingga kini masih terjaga. Warga benar-benar menjaganya dengan baik dan tidak berani membangun. Dinas purbakala pun, memberikan papan pengumuman untuk tidak boleh mengubah atau memindah. Karena akan mendapatkan hukuman dan denda.

Meski makam Raden Husen bernilai sejarah, namun tak banyak pengunjung yang mengunjungi makam beliau. Hal ini karena masyarakat banyak yang belum mengetahui secara luas seorang adipati zaman kerajaan yang beragama Islam.

Menurut Anas Fakhrudin, juru pelihara makam ini, Raden Husen adalah anak dari hasil pernikahan Retno Subanci (putri Cina) dengan Prabu Arya Damar, adipati Palembang. Perkawinan itu merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V (Kertawijaya).

Bagi Raden Husen, Prabu Brawijaya V merupakan kakeknya. Raden Husen termasuk seorang adipati yang setia kepada Kerajaan Besar Majapahit. Di akhir masa kejayaannya, kerajaan yang beraliran Hindu Budha ini pernah mendapatkan serangan dari Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah.

Raden Husen sebagai pemimpin Kadipaten Terung merasa terpanggil untuk mengatasi serangan itu. Apalagi Kadipaten Terung termasuk wilayah taklukan Majapahit di bawah kekuasaan Brawijaya V (Girindrawardhana), yang tidak lain adalah kakeknya sendiri.

Dengan kesaktian Raden Husen, akhirnya Sunan Ngudung sebagai pimpinan pasukan Demak Bintoro berhasil ditaklukkan. Tombak sakti Raden Husen, berhasil melukai sang senopati perang yang tak lain adalah ayahanda Sunan Kudus. Konon tombak pusaka Raden Husen ini tak bisa dilepaskan hingga akhirnya jasad Sunan Ngudung dikebumikan bersama tombak yang menancap tadi.

Ada dua makam di kompleks pusara Raden Husen. “Sebelahnya itu makam pengikut beliau,” katanya.

Dari pantauan di lokasi, makam Raden Husen masih terbuat dari batu bata kuno. Hal tersebut lantaran saat itu, pengaruh Majapahit masih terasa meski sudah memudar. Batu nisan juga terbuat dari bata merah dengan sedikit ornamen.

Tidak diketahui secara pasti angka tahun yang terpahat di batu nisan itu. Untuk makam Raden Husen, tumpukan bata terlihat lebih tinggi. Sedangkan makam di sampingnya dibuat agak rendah.

Anas mengatakan dulunya makam itu berdiri pagar batu merah kuno setinggi 3 meter. Tingginya membujur ke utara hingga kebun bambu membelok ke barat kemudian membelok ke selatan di samping kebun bambu. “Pagar itu bukan buatan Majapahit tapi lebih dibangun sekitar tahun 1965. Karena sudah lapuk dan membahayakan akhirnya dirobohkan,” katanya.

Sekitar tahun 2006 warga menanyakan ke BPCB Trowulan tentang makam siapa yang ada di terung. “Setelah tim ke sini bentuk nisan memiliki kesamaan dengan yang di Troloyo Trowulan. Akhirnya setelah diteliti benar ini situs petilasan Raden Husen. Sejak saat itulah mulai dibuat sebagai tempat cagar budaya,” jelasnya.(pur)

Keterangan gambar : Petilasan Raden Husen di Terung Kulon.(foto: mus purmadani)

https://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/051117-pur-sidoarjo-raden-husen-2-1024x768.jpghttps://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/051117-pur-sidoarjo-raden-husen-2-150x150.jpgREDAKSISeni Budayaadakitanews,Berita,kadipaten terung,raden husen,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Kabupaten Sidoarjo dulunya sebenarnya bernama Kadipaten Terung di bawah Kerajaan Majapahit. Adipatinya, bernama Raden Husen yang beragama Islam. Dan kini, sisa-sisa peninggalannya pun masih ada, meski banjir lahar Gunung Penanggungan telah menghancurkannya. ========= Krian merupakan salah satu wilayah daerah bekas kekuasaan Majapahit. Di wilayah barat Sidoarjo ini dulunya...