ADAKITANEWS, Nganjuk – Musim hujan yang melanda wilayah Nganjuk sudah beberapa kali menimbulkan banjir. Yang terakhir terjadi pada Senin (29/02) dini hari. Air merendam jalanan, sawah dan rumah-rumah warga di 4 desa di Kecamatan Pace. Meski demikian, Taruna Siaga Bencana (Tagana) menganggap Nganjuk masih dalam kekeringan.

Koordinator Tagana Kabupaten Nganjuk, Aris Trio Efendi mengatakan wilayah Nganjuk masih sangat membutuhkan guyuran hujan deras hingga Juni 2016 mendatang. Hal itu terkait dengan ketersediaan cadangan air tanah untuk menghadapi musim kemarau.

Dijelaskan, hujan dalam intensitas tinggi kerap menimbulkan banjir di sejumlah titik seperti Kecamatan Berbek, Pace, Rejoso, Gondang hingga Lengkong. Namun disisi lain, kondisi geografis Nganjuk saat ini masih sangat membutuhkan limpahan air hujan dalam jumlah besar untuk mengisi cadangan air sumber di dalam tanah yang kering sepanjang kemarau lalu. “Hujan sampai Februari ini, kami amati belum berdampak signifikan pada penambahan cadangan air tanah, terutama di wilayah rawan kekeringan,” kata Aris.

Dari catatan Tagana Nganjuk, beberapa wilayah kecamatan menjadi zona rawan bencana di dua musim sakaligus, yakni musim hujan dan musim kemarau. Contohnya di Kecamatan Rejoso, Gondang dan Lengkong. Beberapa desa kerap diterjang banjir dan aliran sungainya meluap setelah diguyur hujan berjam-jam. Namun sayang, sebagian besar air ternyata tidak terserap ke bawah tanah melainkan mengalir dan hilang begitu saja terbawa aliran sungai.

Aris menyebut salah satunya di Dusun Sendang Gogor, Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong. Meski setiap hari hujan deras, tetapi sumber air di dusun tersebut masih kering sampai sekarang.

Diperkirakan, cadangan air tanah di wilayah Nganjuk baru bisa dikatakan normal kembali apabila hujan deras masih terjadi sampai awal Juni 2016 mendatang. Aris mengatakan, dengan adanya hujan tersebut, desa-desa yang paling rawan kekeringan sekalipun termasuk di wilayah Kecamatan Ngluyu dipastikan tidak akan mengalami kejadian serupa saat musim kemarau nanti. “Itu hasil analisis kami, tetapi peluangnya memang kecil,” kata Aris.

Aris mengatakan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dan meminta informasi perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sawahan dimana prediksi puncak musim hujan paling lama bertahan sampai Maret 2016 saja. Artinya, peluang terisinya seluruh cadangan air tanah di Nganjuk akan sangat kecil.

Aris menyebut jika bencana kekeringan masih terjadi pada musim kemarau yang akan datang, maka pihaknya tetap akan melakukan upaya penanggulangan rutin seperti yang lazim dilakukan, yakni. “Di beberapa desa seperti di Gondang dan Ngluyu juga sudah terbantu dengan proyek sumur geolistrik yang tahun ini sudah dibangun di 4 titik,” pungkas Aris.(Jati)

Keterangan gambar: Kondisi banjir di Kabupaten Nganjuk, Senin (29/02) dini hari.