images (7)ADAKITANEWS, Jombang – Polisi dinilai lemah terkait penetapan tersangka dua orang pengusaha galian C yang menewaskan empat bocah SD di lubang bekas galian milik mereka, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu menyusul belum ditahannya kedua bos besar tambang tanah uruk, meski sudah menyandang status tersangka sejak beberapa hari lalu.

Aktivis Lingkar Indonesia Untuk Keadilan (LinK), Aan Anshori mengatakan, kinerja aparat dianggap masih setengah hati dan kurang optimal.  Aan menjelaskan, Jika melihat akibat yang ditimbulkan peristiwa pidana tersebut, yakni kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, dua tersangka yakni Joyo Astro dan Zainal Abidin, pengusaha asal Kabupaten Nganjuk sangat layak dijadikan tersangka dan segera ditahan.

Menurut Aan, keengganan Polisi tidak menahan keduanya merupakan sinyal kuat bahwa Korps berseragam cokelat itu takut pada mafia galian C.

“Tapi yang menjadi masalah justru kenapa dua orang ini tidak dilakukan penahanan. Polisi memang punya alasan subyektif untuk tidak menahan atau menahan tersangka. Tetapi kalau kita lihat misalkan syarat obyektifnya bahwa seseorang atau tersangka, terdakwa itu bisa ditahan kalau pidananya lima tahun, nah saya melihat kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa itu lima tahun sudah,” kata Aan Anshori, Kamis (17/03).

Informasi yang dihimpun tim adakitanews.com, dua pengusaha galian C, Joyo Astro dan Zainal Abidin warga asal Kabupaten Nganjuk ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi setelah lubang kuari bekas tambang galian C miliknya di Desa Plosogenuk Kecamatan Perak, Jombang,  menewaskan empat siswa SDN Sukorejo 1 empat bulan lalu. Mereka dinilai membiarkan kuari itu  tidak tereklamasi sesuai prosedur sejak ditinggalkan pada akhir tahun 2011 lalu sehingga mengakibatkan jatuhnya korban.

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka pada Senin lalu, setelah cukup lama berkutat dalam proses penyelidikan. Dalam proses penyelidikan, Polisi memeriksa sebanyak 30 saksi termasuk dua tersangka. Keduanya dijerat dengan pasal tentang perbuatan yang mengakibatkan orang mati karena kesalahannya dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Empat siswi SD itu tewas setelah tenggelam ke dalam kubangan bekas galian C milik tersangka saat mengikuti kegiatan outbound dan pengenalan penghijauan di lokasi bekas tambang yang diadakan pihak Sekolahnya.(Tari/Jati)

Keterangan Gambar : Ilustrasi